Wawancara dengan Penulis Novelet Secangkir Rindu di Bulan Juni, Eka Bakti
P = Pertanyaan
J = Jawaban
P = Halo, Kak Eka, ada waktu untuk berbincang sebentar saja mengenai novelet Secangkir Rindu di Bulan Juni? Hehe.
J = Boleh, ayo kita ngobrol, Mika. :D
P = Selain menulis, apa saja kesibukan Kak Eka saat ini?
J = Beberapa bulan yang lalu aku masih sibuk kuliah, namun akhirnya sekarang aku memutuskan untuk vakum karena alasan pribadi. Jadi kesibukanku sekarang adalah melakukan hobi sehari-hari. Mendengarkan musik, menulis, dan nonton drama. Ada satu kesibukan lagi yang baru-baru ini sedang aku lakukan, yaitu belajar jadi editor.Heehehe....
P= Wah, calon editor nih. :p Bagaimana sih, Kak, proses kreatif dalam penulisan Secangkir Rindu di Bulan Juni?
J = pertama kali melihat eventnovelet di Lokamedia, jujur aku langsung tertarik untuk mengikuti. Saat itu, kata novelet masih belum familiar di telingaku, jadi menarik rasa penasaranku. Dan itu baru pertama kalinya aku mengetahui jika novelet merupakan salah satu bentuk karya tulis sastra.
Ide Secangkir Rindu di Bulan Juni itu mengalir begitu saja di imajinasiku ketika aku mendengarkan lagu Roy Kim “Pinocchio”. Aku berterima kasih sekali kepada Roy Kim Oppa di lagu tersebut. Lagu tersebut pengantar yang membuat imajinasiku menemukan tentang hujan, bunga levender, aroma kopi, rindu, cinta dan laki-laki rupawan. Jujur, mulanya aku sama sekali tidak tahu arti di balik lagu tersebut. Namun ketika aku mengetahui tulisanku menang juara 2, aku mulai mencari tahu arti lagu tersebut. Rasanya menakjubkan! Arti dari lagu tersebut ternyata menyerupai cerita yang aku buat, yaitu tentang rindu. Bisa kalian cek sendiri kalau tidak percaya! Hehe.
Untuk tokoh laki-lakinya, ada laki-laki nyata yang memang menginspirasiku membuat tokoh Dipta. Dia adalah laki-laki yang cintanya tidak terbalas di masa sekolah. Sebagai wujud rasa terima kasih, aku membuatnya menjadi tokoh Dipta yang mendapatkan cinta.
P = Cieee. :p Nanti Mika unduh lagunya, ah. Hehe. Untuk penulisannya sendiri, Kak Eka memerlukan waktu berapa lama? Pasti ada juga dong suka dukanya. Hehe, bolehlah di-share. :D
J = seingatku, kurang lebih satu bulan proses pembuatannya. Untuk sukanya, karena aku menyukai karakter Dipta yang rupawan, jadi aku sangat mengkhayati peran ketika membuatnya. Dan untuk dukanya, saat itu aku banyak meninggalkan tugas kampus. Hehe
P = Risiko mahasiswa, ya, Kak. Selalu dihujani tugas. Huhu. :’D Setelah novelet Secangkir Rindu di Bulan Juni, apa Kak Eka sudah punya rencana untuk menelurkan karya baru?
J = Iya, tentu saja. Berkat juara 2 di event Lokamedia, semangat menulisku semakin besar. Aku ingin bisa menerbitkan novel, aku ingin bisa menghasilkan banyak karya. Saat ini, aku sudah berhasil merampungkan satu novel. Aku sedang menunggu panggilan penerbit untuk novelku itu. Untuk novel keduaku, saat ini masih proses pembuatan.
P = Sukses, ya, Kak. *peluk. Sebenarnya Secangkir Rindu di Bulan Juni ini bercerita tentang apa sih, Kak? Berhubung novelet ini jadi juara dua, apa sih yang membuat Secangkir Rindu di Bulan Juni layak jadi juara menurut Kak Eka?
J = Menceritakan tentang seorang gadis bernama Inara yang tunawicara di sini. Gadis tunawicara yang jatuh cinta kepada seorang pelukis bernama Dipta, namun ia tidak bisa mengungkapkan. Memang tidak mungkin, jika kita melihat ke dunia nyata, ada laki-laki tampan jatuh cinta kepada perempuan bisu. Kalaupun ada, aku yakin tidak semua laki-laki di dunia bisa melakukannya. Namun aku membuat ketidakmungkinan itu menjadi mungkin, dengan membuat Dipta yang rupawan juga bisa jatuh cinta kepada Inara. Perasaan yang semula tak terungkap karena kepergian Dipta yang tiba-tiba, aku menyelipkan rindu tersembunyi di balik patah hati Inara dan di balik rasa menanti Dipta. Tentu saja aku menciptakan ending bahagia untuk mereka, dengan membuat hati mereka saling merindukan.
P = Kenapa memilih judul Secangkir Rindu di Bulan Juni? Apakah judul sudah ditentukan di awal sebelum menulis atau naskah selesai dulu baru mencari judul?
J = Menurutku, itu judul yang paling bagus selama aku memikirkannya. Hehe. Karena aku membumbui aroma kopi, rasa rindu, lalu hujan di dalam cerita, aku rasa judul Secangkir Rindu di Bulan Juni sangat tepat.
P = Tepat! Mika juga suka. *ketjup. Di mana asal ide itu muncul sehingga novelet Secangkir Rindu di Bulan Juni lahir?
J = Ide itu muncul di dalam kamar. Ditemanai secangkir kopi dan pengantar lagu “pinocchio” Roy Kim. Hehe.
P = Ada hikmah atau pesan gak Kak yang disampaikan dari novelet Secangkir Rindu di Bulan Juni?
J = Pesan yang disampaikan di sini adalah, bahwa ada baiknya cinta itu diungkapkan, rindu itu disampaikan kepada pemiliknya. Meskipun ada ketidakmungkinan dia menerima kita, namun bukan berarti tidak ada kemungkinan dia tidak menerima kita. Dengan saling memberitahu, maka tidak ada patah hati karena memendam rindu, memendam cinta.
P = Ngena banget di hati Mika, Kak Eka. Huhu. :’D Apakah novelet ini murni fiksi atau ada pengalaman pribadi yang terselip?
J = Murni fiksi
P = Minat Kak Eka sebenarnya di genre apa?
J = Aku suka genre romance tapi aku juga ingin mencoba di genrelainnya.
P = Bagian yang Kak Eka suka di novelet ini apa? ^^
J = Aku suka bagian kalimat yang ini, “Jangan menunggu dihampiri jika kamu mampu untuk menemui. Ibaratkan kopi, jangan menunggu dingin jika panas lebih nikmat untuk dinikmati.”
P = Uhuk! Uhuk! Nyindir Mika lagi nih. :’D Kak Eka menyukai dunia tulis sejak kapan?
J = Sejak di bangku SMA
P = Kenapa Kak Eka memutuskan jadi penulis? ^_^
J = Karena itu mimpi saya
P = Ini pertanyaan terakhir dari Mika, ya. Boleh dong Kak Eka share tips menulisnya untuk pemula yang masih belajar menulis
J = jangan takut karya kamu jelek! Tidak ada karya jelek selama kamu bersungguh-sungguh membuatnya. Menulislah dengan hatimu, menulislah dengan rasa percaya diri.
Oke, terima kasih, ya, untuk waktunya, Kak Eka. Sukses terus untuk karya-karya Kak Eka selanjutnya. J


0 komentar