Wawancara dengan Penulis Novelet Ace the Ripper, Dwi Riati
Dwi Riati dan novelet Ace the Ripper
P = Pertanyaan
J = Jawaban
P = Halo, Kak Dwi Riati, ada waktu untuk berbincang sebentar saja mengenai novelet Ace the Ripper? ^_^
Desain cover by Wulan Kenanga
P = Selain menulis, apa saja kesibukan Kak Dwi saat ini?
J = Hmm, apa saja ya? Belakangan ini saya sok sibuk sekali. Selain kuliah dan menyelesaikan skripsi, saya juga bekerja sebagai freelance translator dan penulis artikel. Saya juga berjuang menyelesaikan naskah novel yang terbengkalai. Huhuhu.
P= Wah, keren. Semoga segera selesai skripsinya, ya, Kak. Oh, iya, bagaimana sih proses kreatif dalam penulisan Ace the Ripper?
J = Bagaimana ya? Ide ATR (Ace the Ripper) pertama kali muncul pada November 2015 dan langsung saya tulis draf ATR di note ponsel saat itu juga. Tetapi draf itu baru dikembangkan pada bulan April 2016 ketika Loka mengadakan event novelet. Cukup lama kan proses “sedimentasi” ATR? Hehehe.
P = Lama juga, ya. :D Untuk penulisannya sendiri, Kak Dwi memerlukan waktu berapa lama? Pasti ada juga dong suka dukanya. Hehe, bolehlah di-share. :D
J = Seperti yang sudah saya katakan di atas bahwa naskah ATR mengendap dalam bentuk draf sejak bulan November 2015 sampai April 2016. Dalam proses pengembangannya saya mulai menulis pada tanggal 16 sampai 25 April 2016, tepatnya saat saya sedang UTS semester 6. Saya menulis saat seharusnya saya belajar karena saya membayangkan jika draf ATR dikembangkan akan menjadi cerita yang spektakuler. Saya juga melakukan hal “gila” dengan menulis di dalam ruang ujian. Begitu selesai mengerjakan soal dan masih ada waktu tersisa, saya akan mencoret-coret lembar soal dengan lanjutan cerita ATR. Lembar soal yang seharusnya dikumpulkan lagi ke pengawas malah saya bawa pulang karena harus diketik.
Kesulitan dalam menulis ATR adalah masalah logika dan tone. Saya takut jika apa yang saya tulis tidak bisa masuk akal terutama yang terkait dengan psikologi dan misteri ceritanya. Saya juga takut kata-kata yang saya tulis gagal membawa pembaca merasakan ketegangan dalam ATR. Kalau boleh jujur ATR nyaris saya gantung dan tidak jadi dikirim ke Loka karena saya tidak sanggup menulis bagian ending. Tahu kan ending-nya seperti apa? :D
P = Wah, Kak Dwi memang penulis yang unik. :’D Iya, Mika sudah baca Ace the Ripper dan ending-nya bikin Mika pengin nabok penulisnya. Eh. *Bercanda. :p
Setelah novelet Ace the Ripper, apa Kak Dwi sudah punya rencana untuk menelurkan karya baru?
J = Saat ini saya sedang menyelesaikan dua karya yaitu novel dan skripsi. Semoga tahun depan dua-duanya bisa terbit. Doakan saja ya, Mika dan Sobat Loka. ^^
P = Amin. Semoga lancar, ya, Kak. Ketjup. :* O, iya, berhubung Mika sudah baca Ace the Ripper, bolehlah di-sharelagi. Sebenarnya Ace the Ripper ini bercerita tentang apa sih, Kak? Berhubung novelet ini jadi juara satu, apa sih yang membuat Ace the Ripper layak jadi juara menurut Kak Dwi?
J = ATR (Ace The Ripper) adalah sebuah fanfiction dengan tokoh dari boybandDBSK. Ceritanya tentang seorang wanita yang memiliki carnophobia alias fobia terhadap daging. Namun, di balik fobia itu ada sebuah rahasia yang membuat kalian tidak nafsu makan. Penasaran, kan? Makanya beli ya (Promosi :D).
Sejujurnya saya tidak pernah berpikir ATR akan jadi juara karena syarat dari event novelet Loka itu genre cerita romance. Saya ragu sisi romancedi ATR. Makanya saya kaget ketika tahu ATR jadi juara satu. Kok bisa? Bagusnya apa? Romantis dari sisi mana? Saya berpikir seperti itu.
Tetapi kalau ditanya mengapa ATR layak jadi juara karena ceritanya yang penuh kejutan yang mengecoh pembaca, termasuk Mika juga, kan? :D.
P = Ayo beli-beli. Ikut promosi. :D O, iya, Kak, kenapa memilih judul Ace the Ripper? Apakah judul sudah ditentukan di awal sebelum menulis atau naskah selesai dulu baru mencari judul?
J = Ace the Ripper adalah perpaduan antara karakter Ace di anime One Piece dan pembunuh berantai legendaris Jack the Ripper. Saya memilih Ace karena Chang Min DBSK melakukan cosplay tokoh Ace pada perayaan Halloween dan Jack the Ripper adalah pembunuh terkenal di Inggris pada tahun 1888 yang misterinya sampai saat ini belum dipecahkan. Alhamdulillah, kali ini saya berhasil membuat judul sebelum menulis. Hehehe. Biasanya saya membuat judul setelah naskah selesai atau tidak saya kasih judul sama sekali.
P = Di mana asal ide itu muncul sehingga novelet Ace the Ripper lahir? :D
J = Kalau boleh jujur ide ATR mendadak muncul ketika saya sedang makan nasi padang dengan rendang pada bulan November 2015 (Serius!). Saya berpikir bagaimana kalau daging rendang ini ternyata daging manusia? Lho?!
Ide itu tercipta dengan banyak kebetulan. Pertama, kebetulan Chang Min DBSK pernah cosplay sebagai Ace. Kedua, saat itu saya sedang belajar teori psikoanalisis dan psikologi klinis. Ketiga, saya juga baru saja membeli beberapa novel misteri Agatha Christy. Dari tiga kebetulan itu saya mulai menyusun plot cerita yang seperti ini.
P = Mika mendadak mual Kak Dwi bilang rendang daging manusia. :’D O, iya, ada hikmah atau pesan gak Kak yang disampaikan dari novelet Ace the Ripper?
J = Apa, ya? Jujur saya merasa ATR tidak memiliki nilai moral apa pun. Tetapi jika digali lebih dalam ATR mengajarkan kita tentang kepercayaan. Jadilah orang yang selalu skeptis. Jangan pernah percaya pada suatu hal hanya dalam satu kali lihat. Kita tidak pernah tahu rahasia besar apa yang tersimpan di balik “permukaan” seseorang.
P = Apakah novelet ini murni fiksi atau ada pengalaman pribadi yang terselip? :p
J = Ada dua kasus pembunuhan berantai yang menjadi inspirasi saya. Yang pertama, pembunuhan berantai oleh Jack the Ripper pada tahun 1888 di Inggris. Dia membunuh pelacur di London dengan memerkosa, memutilasi dan mengambil organ dalamnya. Yang kedua, pembunuhan berantai di Hwasung, Korea Selatan pada 1980-an yang telah menewaskan lebih dari 10 orang wanita muda. Dua pembunuhan itu masih menjadi misteri. Selain itu, sisanya adalah murni imajinasi saya. Duh, imajinasi saya seram ya?
P = Haha. Jangan-jangan cucunya Agatha Cristy. :’D Riset apa saja untuk novelet ini?
J = Sepertinya riset ATR setara dengan riset skripsi. Hahaha. Saya melakukan riset di bidang psikologi terkait dengan kecenderungan psikopati dan carnophobia. Saya juga riset sejarah mulai dari Jack the Ripper di Inggris, pembunuhan berantai di Hwasung, Korea Selatan, membaca novel-novel Agatha Christy, membaca komik One Piece agar lebih mengenal Ace dan juga menonton apa pun yang menyangkut Chang Min DBSK. :D
P = Minat Kak Dwi sebenarnya di genre apa? ^^
J = Sebenarnya saya suka genre romance. Romance juga bukan hanya terkait hubungan kekasih tetapi hubungan orang tua dan keluarga. juga Selain itu, saya penganut anti happy ending. Jika menemukan tulisan saya yang happy ending mungkin saya sedang lelah.
P = Bagian yang Kak Dwi suka di novelet ini apa?
J = Semuanya. Hahaha. Tidak. Tidak. Ada beberapa bagian yang saya suka seperti saat carnophobia tokoh Sae Ron kambuh dan Jae Joong, suaminya, membantu menyembuhkannya. Itu adegan paling romantis di ATR. Selain itu, adegan selama sesi konsultasi Sae Ron dengan Chang Min menjadi favorit saya karena di sana pembaca mulai menebak apa yang akan terjadi dalam novelet ini.
P = Kak Dwi menyukai dunia tulis sejak kapan?
J = Sejak SD saya sudah menulis buku harian dengan kalimat pembuka andalan “Dear diary, hari ini aku...”. Saat SMP saya menulis cerita dengan setting Indonesia. Kemudian, masuk SMA sampai saat ini suka menulis dengan settingKorea dan Barat.
P = Kenapa Kak Dwi memutuskan jadi penulis?
J = Sejak kecil saya suka berimajinasi. Cara terbaik untuk menuangkan imajinasi saya adalah dengan menulis. Awalnya saya tidak berpikir kalau karya saya dibaca orang. Saya menulis karena saya pusing banyak sekali imajinasi di dalam kepala. Hehehe.
P = Ini pertanyaan terakhir dari Mika, ya. Boleh dong Kak Dwi share tips menulisnya untuk pemula yang masih belajar menulis. :*
J = Aduh! Saya juga masih pemula. Ilmu menulisnya masih dangkal. :D
Untuk menjadi penulis harus suka membaca dan menulis. Imbangi kedua kegiatan itu. Jangan menulis terus sampai lupa membaca ya.
Jika karyamu ingin dikenal jangan takut untuk mengenalkan karyamu ke dunia. Sekarang sudah ada banyak media yang bisa membantumu seperti Wattpad, blog dan lain-lain.
Jangan takut juga mengirim karyamu ke penerbit atau event menulis. Penolakan dan kekalahan memang menyakitkan tetapi dari situ kita mengetahui berapa batas kemampuan menulis kita dan membuat kita semakin semangat menulis.
Jangan berkecil hati jika karyamu dikritik karena kritik yang akan membantumu berkembang. Kritik mengajarkan kita tentang sudut pandang. Tidak semua orang memiliki sudut pandang yang sama dengan kita. Jadi wajar saja jika ada yang pro dan kontra terhadap karyamu.
Fighting! ^^
Oke, terima kasih, ya, untuk waktunya, Kak Dwi. Sukses terus untuk karya-karya Kak Dwi selanjutnya. J


0 komentar