Wawancara dengan Penulis Buku Aku (Bukan) Gay, Thomas Utomo
P = Pertanyaan
J = Jawaban
P = Halo, Kak Thomas, ada waktu untuk berbincang sebentar saja mengenai buku Aku (Bukan) Gay? :D
J = Ada waktu dong, Mika. Yuk, ngobrol-ngobrol.
P = Selain menulis, apa saja kesibukan Kak Thomas saat ini?
J = Kesibukan saya adalah menjadi ayah seorang balita. Saya juga jadi guru di sekolah dasar di Purwokerto.
P= Bagaimana sih, Kak, proses kreatif dalam penulisan buku Aku (Bukan) Gay? ^^
J = Aku (Bukan) Gay lahir—salah satunya—dari hasil membaca buku Anakku Bertanya tentang LGBT karya Singo Egie terbitan Quanta Elex Media Komputindo. ^_^ Selain itu, saya juga menggabungkan diri di grup Peduli Sahabatyang digagas Kak Sinyo. Grup itu ada di Facebook. Cari aja kalau berminat gabung. Grup itu dibuat untuk mewadahi orang-orang penyuka sesama jenis yang ingin berubah menapaki jalan hidup/ingin punya orientasi seksual yang lebih baik. Grup ini juga terbuka buat umum seperti saya yang tidak pernah bersinggungan dengan dunia LGBT sebelumnya.
Dari berbagai curhat para member dan juga nasihat serta tukar informasi dari para pendamping (Kak Sinyo dkk), saya dapat banyak ilmu baru yang berharga yang kemudian menggerakkan saya untuk menulisnya dalam bentuk cerita fiksi.
Saya sebut di sini sebagai contoh. Ada seorang pemuda penyuka sesama jenis yang diminta orang tuanya menikah. Sementara dia tidak menyukai perempuan. Ketika akhirnya dia menuruti keinginan orang tua, terjadilah dilema yang rumit. Itu baru satu contoh. Masih banyak contoh kasus lain yang membuat saya baper dan ingin supaya kisah semacam itu digaungkan ke lebih banyak orang/pembaca. Bukan untuk membuka aib, mengeksploitasi penderitaan orang lain, atau mencari ketenaran dengan menulis tema kontroversial, melainkan upaya persuasif untuk memandang saudara-saudara yang menyukai sesama jenis, dari sudut pandang berbeda. Dan pada akhirnya berusaha untuk berempati dan membantu mengentaskan mereka dari kekeliruan jalan hidup. Bukankah sebagai sesama hidup kita wajib tolong-menolong dalam perkara kebaikan?
Kurang-lebih begitulah cerita singkat tentang proses kreatif buku Aku (Bukan) Gay.
P = Kapan-kapan Mika baca bukunya, ya, Kak. :p Jadi begitu, ya, cerita Aku (Bukan) Gay lahir. Mika salut sama Kak Thomas. Untuk penulisannya sendiri, Kak Thomas memerlukan waktu berapa lama? Pasti ada juga dong suka dukanya. Hehe, bolehlah di-share. :D
J = Buku Aku (Bukan) Gay berisi 12 cerita. Kalau bicara soal waktu penulisannya, bisa jadi kisaran tiga tahun, karena ada cerita yang saya tulis tahun 2013. Ada juga yang ditulis tahun 2016 ini. Saya menulis seluruh naskah dengan cara mipil/nyicil/ bertahap. Jadi memerlukan waktu lumayan lama.
Bicara soal sukanya menulis naskah buku ini banyak, alhamdulillah. Misalnya, dalam proses penggarapan saya berusaha menyelami kepribadian penyuka sesama jenis, lewat kisah-kisah yang mereka bagikan di grup Peduli Sahabat. Dari upaya itu, saya merasakan empati saya tumbuh pada orang-orang yang pengalaman orientasi seksualnya saya tulis.
Dalam diri saya tumbuh juga kesadaran dan pengertian baru, bahwa ternyata tidak semua penyuka sesama jenis itu bahagia/ merasa nyaman dengan orientasi seksual yang dia miliki. Tidak sedikit yang merasa tersiksa, tapi bingung mau mencari bantuan pada siapa/ bagaimana.
Saya juga jadi tahu bahwa tidak semua penyuka sesama jenis itu bisa disebut gay/ lesbian. Ada juga yang hanya bisa disebut same sex attractions/SSA. Perbedaan definisi/ sebutan itu disebabkan oleh kasusnya. Seperti apa jelasnya? Baca bukunya. Insyaallah, di sana ada sekelumit penjelasan yang mudah-mudahan bisa menambah informasi.
Tentang dukanya, saya sering dikira menulis kisah saya sendiri oleh orang-orang yang khatam baca buku Aku (Bukan) Gay. “Kamu nulis ceritamu sendiri, ya?”, “Apa kamu gay?”, “Apa ini kisah hidupmu?” dll. Meski begitu, saya merasa senang juga sebetulnya karena artinya saya berhasil memengaruhi pembaca untuk masuk ke dalam cerita. ^_^
Buktinya, mereka mengira kalau sayalah tokoh dalam cerita Aku (Bukan) Gay.
P = Mika juga sempat mengira kalau Aku (Bukan) Gay kisah penulisnya sendiri. Eh. :’D Setelah buku kumpulan cerita Aku (Bukan) Gay, apa Kak Thomas sudah punya rencana untuk menelurkan karya baru?
J = Insya Allah, ada buku saya yang terbit tahun 2017. Ada buku Lepas Rasa yang insyaallah diterbitkan Loka Media. Juga ada naskah novel anak yang sedang saya garap. Novel anak itu menceritakan pengalaman bertualang seorang anak SD ke tiga negara: Singapura, Malaysia, Thailand. Doain ya semoga kedua buku itu bisa terbit dengan mutu isi dan mutu cetakan yang berkualitas dan pada akhirnya memberi manfaat buat yang membaca dan yang menulis. Amin.
Saya juga berharap bisa terus menelurkan karya dengan kualitas dan hasil penjualan (^_^) yang terus menanjak.
P = Amin, Mika doakan proses penerbitannya lancar. ^_^ O, iya, berhubunga Mika sudah baca Aku (Bukan) Gay, bolehlah di-share lagi ke yang lain. Sebenarnya Aku (Bukan) Gay ini bercerita tentang apa sih, Kak?
J = Aku (Bukan) Gay mengisahkan ketidaknyamanan hidup seorang penyuka sesama jenis dengan orientasi seksual yang dia miliki. Di samping itu, ada juga cerita-cerita lain, seperti kisah seorang perempuan yang terlambat tahu kalau suaminya penyuka sesama jenis.
P = Kenapa memilih judul Aku (Bukan) Gay? Apakah judul sudah ditentukan di awal sebelum menulis atau naskah selesai dulu baru mencari judul?
J = Judul Aku (Bukan) Gay dipilih bukan tanpa alasan. Menurut saya, judul itu eye catching. Menarik. Mudah membetot perhatian. Lebih dari itu, judul itu mengandung muatan psikologi, yaitu orang yang mau menyatakan kalau dirinya bukan gay (lantaran dia sendiri tidak mau jadi gay), tapi dia sendiri ragu-ragu, betulkah dirinya bukan gay (sementara pengalaman hidupnya justru membuatnya berkecimpung dalam dunia sesama jenis)? Karena itu ada tanda kurung mengapit kata bukan. Itu adalah sebentuk pernyataan yang gamang/ragu-ragu.
P = Iya, judulnya memang menarik. Buktinya buku Aku (Bukan) Gay laris manis euy. :D
O, iya, Kak, ada hikmah atau pesan gak Kak yang disampaikan dari buku Aku (Bukan) Gay?
J = Salah satu hikmah yang saya selipkan adalah kita harus lebih berempati pada orang-orang di sekeliling, apa pun keadaaannya.
P = Apakah buku ini murni fiksi atau ada pengalaman pribadi yang terselip?
J = Buku ini murni fiksi. Tapi bukankah fiksi tidak pernah beranjak jauh dari fakta kehidupan di lapangan? Yang jelas, dalam buku Aku (Bukan) Gay saya tidak menulis diri sendiri. ^_^
P = Riset apa saja untuk buku ini?
J = Browsing di internet, baca status-status/note-notedi grup Peduli Sahabat, baca buku, wawancara seorang gay juga biar lebih mendapatkan gambaran jelas.
P = Minat Kak Thomas sebenarnya di genre apa?
J = Saya menulis cerita anak-anak. Saya juga menulis buat remaja dan dewasa. Minat saya di banyak genre sebetulnya. Saya menulis fiksi, juga nonfiksi. Ada cerpen, cernak, novelet, novel, flash fiction, resensi, artikel, naskah drama. Jelasnya, saya ingin bisa menulis dalam genre yang berbeda-beda. :)
P = Wah, banyak, ya. :D Bagian yang Kak Thomas suka di buku ini apa?
J = Alhamdulillah, Mika, semua bagian buku Aku (Bukan) Gay saya suka. ^_^
P = Kak Thomas menyukai dunia tulis sejak kapan?
J = Saya menulis sejak kecil. Tapi betul-betul fokus setelah bapak saya meninggal, kira-kira tujuh tahun lalu. Kesedihan akibat kepergian orang yang disayangi ternyata mendorong dan mengasah kepekaan untuk menulis. Saya membuktikannya.
P = Mika turut berduka cita. L By the way, Kenapa Kak Thomas memutuskan jadi penulis?
J = Saya menulis karena saya ingin “bicara” dengan banyak orang lewat media berbeda. Saya ingin “berbicara” dengan banyak orang tanpa perlu berhadap-hadapan. Tanpa perlu saling memandang. Tanpa perlu rasa rikuh/malu karena bicara dengan orang yang baru dikenal.
P = Ini pertanyaan terakhir dari Mika, ya. Boleh dong Kak Thomas share tips menulisnya untuk pemula yang masih belajar menulis J
J = Asah kepekaan. Kalau sering galau, sering patah hati, kecewa, marah, sedih, nelangsa, itu bagus. Bagus karena bisa amunisi yang sangat bisa digunakan untuk mengasah kepekaan. Dari kepekaan itu kita bisa menulis lebih mudah, lebih lancar. Biasanya kalau orang lagi sensi/peka, jadi bisa nulis status galau, caci-maki, dll panjang-lebar di media sosial, ‘kan? Nah, itu yang saya maksud.
P = Oke, terima kasih, ya, untuk waktunya, Kak Thomas. Sukses terus untuk karya-karya Kak Thomas selanjutnya. J
P = Amin. Makasih Mika. Barakallah. Semoga keberkahan dan kemudahan menulis serta membaca senantiasa dikaruniakan-Nya. Amin. :)


0 komentar