• Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Download

Mengenai Saya

Unknown
Lihat profil lengkapku

Catatan kecilku 2

facebook google twitter tumblr instagram linkedin


P = Pertanyaan
J = Jawaban

P = Halo, Kak Eka, ada waktu untuk berbincang sebentar saja mengenai novelet Secangkir Rindu di Bulan Juni? Hehe.
J = Boleh, ayo kita ngobrol, Mika. :D




P = Selain menulis, apa saja kesibukan Kak Eka saat ini?
J = Beberapa bulan yang lalu aku masih sibuk kuliah, namun akhirnya sekarang aku memutuskan untuk vakum karena alasan pribadi. Jadi kesibukanku sekarang adalah melakukan hobi sehari-hari. Mendengarkan musik, menulis, dan nonton drama. Ada satu kesibukan lagi yang baru-baru ini sedang aku lakukan, yaitu belajar jadi editor.Heehehe....

P= Wah, calon editor nih. :p Bagaimana sih, Kak, proses kreatif dalam penulisan Secangkir Rindu di Bulan Juni?
J = pertama kali melihat eventnovelet di Lokamedia, jujur aku langsung tertarik untuk mengikuti. Saat itu, kata novelet masih belum familiar di telingaku, jadi menarik rasa penasaranku. Dan itu baru pertama kalinya aku mengetahui jika novelet merupakan salah satu bentuk karya tulis sastra.
Ide Secangkir Rindu di Bulan Juni itu mengalir begitu saja di imajinasiku ketika aku mendengarkan lagu Roy Kim “Pinocchio”. Aku berterima kasih sekali kepada Roy Kim Oppa di lagu tersebut. Lagu tersebut pengantar yang membuat imajinasiku menemukan tentang hujan, bunga levender, aroma kopi, rindu, cinta dan laki-laki rupawan. Jujur, mulanya aku sama sekali tidak tahu arti di balik lagu tersebut. Namun ketika aku mengetahui tulisanku menang juara 2, aku mulai mencari tahu arti lagu tersebut. Rasanya menakjubkan! Arti dari lagu tersebut ternyata menyerupai cerita yang aku buat, yaitu tentang rindu. Bisa kalian cek sendiri kalau tidak percaya! Hehe.
Untuk tokoh laki-lakinya, ada laki-laki nyata yang memang menginspirasiku membuat tokoh Dipta. Dia adalah laki-laki yang cintanya tidak terbalas di masa sekolah. Sebagai wujud rasa terima kasih, aku membuatnya menjadi tokoh Dipta yang mendapatkan cinta.

P = Cieee. :p Nanti Mika unduh lagunya, ah. Hehe. Untuk penulisannya sendiri, Kak Eka memerlukan waktu berapa lama? Pasti ada juga dong suka dukanya. Hehe, bolehlah di-share. :D
J = seingatku, kurang lebih satu bulan proses pembuatannya. Untuk sukanya, karena aku menyukai karakter Dipta yang rupawan, jadi aku sangat mengkhayati peran ketika membuatnya. Dan untuk dukanya, saat itu aku banyak meninggalkan tugas kampus. Hehe

P = Risiko mahasiswa, ya, Kak. Selalu dihujani tugas. Huhu. :’D Setelah novelet Secangkir Rindu di Bulan Juni, apa Kak Eka sudah punya rencana untuk menelurkan karya baru?
J = Iya, tentu saja. Berkat juara 2 di event Lokamedia, semangat menulisku semakin besar. Aku ingin bisa menerbitkan novel, aku ingin bisa menghasilkan banyak karya. Saat ini, aku sudah berhasil merampungkan satu novel. Aku sedang menunggu panggilan penerbit untuk novelku itu. Untuk novel keduaku, saat ini masih proses pembuatan.

P = Sukses, ya, Kak. *peluk. Sebenarnya Secangkir Rindu di Bulan Juni ini bercerita tentang apa sih, Kak? Berhubung novelet ini jadi juara dua, apa sih yang membuat Secangkir Rindu di Bulan Juni layak jadi juara menurut Kak Eka?
J = Menceritakan tentang seorang gadis bernama Inara yang tunawicara di sini. Gadis tunawicara yang jatuh cinta kepada seorang pelukis bernama Dipta, namun ia tidak bisa mengungkapkan. Memang tidak mungkin, jika kita melihat ke dunia nyata, ada laki-laki tampan jatuh cinta kepada perempuan bisu. Kalaupun ada, aku yakin tidak semua laki-laki di dunia bisa melakukannya. Namun aku membuat ketidakmungkinan itu menjadi mungkin, dengan membuat Dipta yang rupawan juga bisa jatuh cinta kepada Inara. Perasaan yang semula tak terungkap karena kepergian Dipta yang tiba-tiba, aku menyelipkan rindu tersembunyi di balik patah hati Inara dan di balik rasa menanti Dipta. Tentu saja aku menciptakan ending bahagia untuk mereka, dengan membuat hati mereka saling merindukan.

P = Kenapa memilih judul Secangkir Rindu di Bulan Juni? Apakah judul sudah ditentukan di awal sebelum menulis atau naskah selesai dulu baru mencari judul?
J = Menurutku, itu judul yang paling bagus selama aku memikirkannya. Hehe. Karena aku membumbui aroma kopi, rasa rindu, lalu hujan di dalam cerita, aku rasa judul Secangkir Rindu di Bulan Juni sangat tepat.

P = Tepat! Mika juga suka. *ketjup. Di mana asal ide itu muncul sehingga novelet Secangkir Rindu di Bulan Juni lahir?
J = Ide itu muncul di dalam kamar. Ditemanai secangkir kopi dan pengantar lagu “pinocchio” Roy Kim. Hehe.

P = Ada hikmah atau pesan gak Kak yang disampaikan dari novelet Secangkir Rindu di Bulan Juni?
J = Pesan yang disampaikan di sini adalah, bahwa ada baiknya cinta itu diungkapkan, rindu itu disampaikan kepada pemiliknya. Meskipun ada ketidakmungkinan dia menerima kita, namun bukan berarti tidak ada kemungkinan dia tidak menerima kita. Dengan saling memberitahu, maka tidak ada patah hati karena memendam rindu, memendam cinta.

P = Ngena banget di hati Mika, Kak Eka. Huhu. :’D Apakah novelet ini murni fiksi atau ada pengalaman pribadi yang terselip?
J = Murni fiksi

P = Minat Kak Eka sebenarnya di genre apa?
J = Aku suka genre romance tapi aku juga ingin mencoba di genrelainnya.

P = Bagian yang Kak Eka suka di novelet ini apa? ^^
J = Aku suka bagian kalimat yang ini, “Jangan menunggu dihampiri jika kamu mampu untuk menemui. Ibaratkan kopi, jangan menunggu dingin jika panas lebih nikmat untuk dinikmati.”

P = Uhuk! Uhuk! Nyindir Mika lagi nih. :’D Kak Eka menyukai dunia tulis sejak kapan?
J = Sejak di bangku SMA

P = Kenapa Kak Eka memutuskan jadi penulis? ^_^
J = Karena itu mimpi saya

P = Ini pertanyaan terakhir dari Mika, ya. Boleh dong Kak Eka share tips menulisnya untuk pemula yang masih belajar menulis
J = jangan takut karya kamu jelek! Tidak ada karya jelek selama kamu bersungguh-sungguh membuatnya. Menulislah dengan hatimu, menulislah dengan rasa percaya diri.


Oke, terima kasih, ya, untuk waktunya, Kak Eka. Sukses terus untuk karya-karya Kak Eka selanjutnya. J
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

P = Pertanyaan
J = Jawaban

P = Halo, Kak Thomas, ada waktu untuk berbincang sebentar saja mengenai buku Aku (Bukan) Gay? :D
J = Ada waktu dong, Mika. Yuk, ngobrol-ngobrol.



P = Selain menulis, apa saja kesibukan Kak Thomas saat ini?
J = Kesibukan saya adalah menjadi ayah seorang balita. Saya juga jadi guru di sekolah dasar di Purwokerto.


P= Bagaimana sih, Kak, proses kreatif dalam penulisan buku Aku (Bukan) Gay? ^^
J = Aku (Bukan) Gay lahir—salah satunya—dari hasil membaca buku Anakku Bertanya tentang LGBT karya Singo Egie terbitan Quanta Elex Media Komputindo. ^_^ Selain itu, saya juga menggabungkan diri di grup Peduli Sahabatyang digagas Kak Sinyo. Grup itu ada di Facebook. Cari aja kalau berminat gabung. Grup itu dibuat untuk mewadahi orang-orang penyuka sesama jenis yang ingin berubah menapaki jalan hidup/ingin punya orientasi seksual yang lebih baik. Grup ini juga terbuka buat umum seperti saya yang tidak pernah bersinggungan dengan dunia LGBT sebelumnya.
Dari berbagai curhat para member dan juga nasihat serta tukar informasi dari para pendamping (Kak Sinyo dkk), saya dapat banyak ilmu baru yang berharga yang kemudian menggerakkan saya untuk menulisnya dalam bentuk cerita fiksi.
Saya sebut di sini sebagai contoh. Ada seorang pemuda penyuka sesama jenis yang diminta orang tuanya menikah. Sementara dia tidak menyukai perempuan. Ketika akhirnya dia menuruti keinginan orang tua, terjadilah dilema yang rumit. Itu baru satu contoh. Masih banyak contoh kasus lain yang membuat saya baper dan ingin supaya kisah semacam itu digaungkan ke lebih banyak orang/pembaca. Bukan untuk membuka aib, mengeksploitasi penderitaan orang lain, atau mencari ketenaran dengan menulis tema kontroversial, melainkan upaya persuasif untuk memandang saudara-saudara yang menyukai sesama jenis, dari sudut pandang berbeda. Dan pada akhirnya berusaha untuk berempati dan membantu mengentaskan mereka dari kekeliruan jalan hidup. Bukankah sebagai sesama hidup kita wajib tolong-menolong dalam perkara kebaikan?
Kurang-lebih begitulah cerita singkat tentang proses kreatif buku Aku (Bukan) Gay.

P = Kapan-kapan Mika baca bukunya, ya, Kak. :p Jadi begitu, ya, cerita Aku (Bukan) Gay lahir. Mika salut sama Kak Thomas. Untuk penulisannya sendiri, Kak Thomas memerlukan waktu berapa lama? Pasti ada juga dong suka dukanya. Hehe, bolehlah di-share. :D
J = Buku Aku (Bukan) Gay berisi 12 cerita. Kalau bicara soal waktu penulisannya, bisa jadi kisaran tiga tahun, karena ada cerita yang saya tulis tahun 2013. Ada juga yang ditulis tahun 2016 ini. Saya menulis seluruh naskah dengan cara mipil/nyicil/ bertahap. Jadi memerlukan waktu lumayan lama.
Bicara soal sukanya menulis naskah buku ini banyak, alhamdulillah. Misalnya, dalam proses penggarapan saya berusaha menyelami kepribadian penyuka sesama jenis, lewat kisah-kisah yang mereka bagikan di grup Peduli Sahabat. Dari upaya itu, saya merasakan empati saya tumbuh pada orang-orang yang pengalaman orientasi seksualnya saya tulis.   
Dalam diri saya tumbuh juga kesadaran dan pengertian baru, bahwa ternyata tidak semua penyuka sesama jenis itu bahagia/ merasa nyaman dengan orientasi seksual yang dia miliki. Tidak sedikit yang merasa tersiksa, tapi bingung mau mencari bantuan pada siapa/ bagaimana.
Saya juga jadi tahu bahwa tidak semua penyuka sesama jenis itu bisa disebut gay/ lesbian. Ada juga yang hanya bisa disebut same sex attractions/SSA. Perbedaan definisi/ sebutan itu disebabkan oleh kasusnya. Seperti apa jelasnya? Baca bukunya. Insyaallah, di sana ada sekelumit penjelasan yang mudah-mudahan bisa menambah informasi.
Tentang dukanya, saya sering dikira menulis kisah saya sendiri oleh orang-orang yang khatam baca buku Aku (Bukan) Gay. “Kamu nulis ceritamu sendiri, ya?”, “Apa kamu gay?”, “Apa ini kisah hidupmu?” dll. Meski begitu, saya merasa senang juga sebetulnya karena artinya saya berhasil memengaruhi pembaca untuk masuk ke dalam cerita. ^_^
Buktinya, mereka mengira kalau sayalah tokoh dalam cerita Aku (Bukan) Gay.
P = Mika juga sempat mengira kalau Aku (Bukan) Gay kisah penulisnya sendiri. Eh. :’D Setelah buku kumpulan cerita Aku (Bukan) Gay, apa Kak Thomas sudah punya rencana untuk menelurkan karya baru?
J = Insya Allah, ada buku saya yang terbit tahun 2017. Ada buku Lepas Rasa yang insyaallah diterbitkan Loka Media. Juga ada naskah novel anak yang sedang saya garap. Novel anak itu menceritakan pengalaman bertualang seorang anak SD ke tiga negara: Singapura, Malaysia, Thailand. Doain ya semoga kedua buku itu bisa terbit dengan mutu isi dan mutu cetakan yang berkualitas dan pada akhirnya memberi manfaat buat yang membaca dan yang menulis. Amin.
Saya juga berharap bisa terus menelurkan karya dengan kualitas dan hasil penjualan (^_^) yang terus menanjak.

P = Amin, Mika doakan proses penerbitannya lancar. ^_^ O, iya, berhubunga Mika sudah baca Aku (Bukan) Gay, bolehlah di-share lagi ke yang lain. Sebenarnya Aku (Bukan) Gay ini bercerita tentang apa sih, Kak?
J = Aku (Bukan) Gay mengisahkan ketidaknyamanan hidup seorang penyuka sesama jenis dengan orientasi seksual yang dia miliki. Di samping itu, ada juga cerita-cerita lain, seperti kisah seorang perempuan yang terlambat tahu kalau suaminya penyuka sesama jenis.
P = Kenapa memilih judul Aku (Bukan) Gay? Apakah judul sudah ditentukan di awal sebelum menulis atau naskah selesai dulu baru mencari judul?
J = Judul Aku (Bukan) Gay dipilih bukan tanpa alasan. Menurut saya, judul itu eye catching. Menarik. Mudah membetot perhatian. Lebih dari itu, judul itu mengandung muatan psikologi, yaitu orang yang mau menyatakan kalau dirinya bukan gay (lantaran dia sendiri tidak mau jadi gay), tapi dia sendiri ragu-ragu, betulkah dirinya bukan gay (sementara pengalaman hidupnya justru membuatnya berkecimpung dalam dunia sesama jenis)? Karena itu ada tanda kurung mengapit kata bukan. Itu adalah sebentuk pernyataan yang gamang/ragu-ragu.

P = Iya, judulnya memang menarik. Buktinya buku Aku (Bukan) Gay laris manis euy. :D
O, iya, Kak, ada hikmah atau pesan gak Kak yang disampaikan dari buku Aku (Bukan) Gay?
J =  Salah satu hikmah yang saya selipkan adalah kita harus lebih berempati pada orang-orang di sekeliling, apa pun keadaaannya.

P = Apakah buku ini murni fiksi atau ada pengalaman pribadi yang terselip?
J = Buku ini murni fiksi. Tapi bukankah fiksi tidak pernah beranjak jauh dari fakta kehidupan di lapangan? Yang jelas, dalam buku Aku (Bukan) Gay saya tidak menulis diri sendiri. ^_^

P = Riset apa saja untuk buku ini?
J = Browsing di internet, baca status-status/note-notedi grup Peduli Sahabat, baca buku, wawancara seorang gay juga biar lebih mendapatkan gambaran jelas.

P = Minat Kak Thomas sebenarnya di genre apa?
J = Saya menulis cerita anak-anak. Saya juga menulis buat remaja dan dewasa. Minat saya di banyak genre sebetulnya. Saya menulis fiksi, juga nonfiksi. Ada cerpen, cernak, novelet, novel, flash fiction, resensi, artikel, naskah drama. Jelasnya, saya ingin bisa menulis dalam genre yang berbeda-beda. :)

P = Wah, banyak, ya. :D Bagian yang Kak Thomas suka di buku ini apa?
J = Alhamdulillah, Mika, semua bagian buku Aku (Bukan) Gay saya suka. ^_^

P = Kak Thomas menyukai dunia tulis sejak kapan?
J = Saya menulis sejak kecil. Tapi betul-betul fokus setelah bapak saya meninggal, kira-kira tujuh tahun lalu. Kesedihan akibat kepergian orang yang disayangi ternyata mendorong dan mengasah kepekaan untuk menulis. Saya membuktikannya.

P = Mika turut berduka cita. L By the way, Kenapa Kak Thomas memutuskan jadi penulis?
J = Saya menulis karena saya ingin “bicara” dengan banyak orang lewat media berbeda. Saya ingin “berbicara” dengan banyak orang tanpa perlu berhadap-hadapan. Tanpa perlu saling memandang. Tanpa perlu rasa rikuh/malu karena bicara dengan orang yang baru dikenal.

P = Ini pertanyaan terakhir dari Mika, ya. Boleh dong Kak Thomas share tips menulisnya untuk pemula yang masih belajar menulis J
J = Asah kepekaan. Kalau sering galau, sering patah hati, kecewa, marah, sedih, nelangsa, itu bagus. Bagus karena bisa amunisi yang sangat bisa digunakan untuk mengasah kepekaan. Dari kepekaan itu kita bisa menulis lebih mudah, lebih lancar. Biasanya kalau orang lagi sensi/peka, jadi bisa nulis status galau, caci-maki, dll panjang-lebar di media sosial, ‘kan? Nah, itu yang saya maksud.

P = Oke, terima kasih, ya, untuk waktunya, Kak Thomas. Sukses terus untuk karya-karya Kak Thomas selanjutnya. J
P = Amin. Makasih Mika. Barakallah. Semoga keberkahan dan kemudahan menulis serta membaca senantiasa dikaruniakan-Nya. Amin. :)



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


P = Pertanyaan                  
J = Jawaban

P = Halo, Kak Uli, ada waktu untuk berbincang sebentar saja mengenai novel Rainbow After the Rain? Hehe.
J = Iya Mika, tentu boleh.




P = Selain menulis, apa saja kesibukan Kak Uli saat ini?
J = Saat ini sedang ada kerja sampingan, selain menuntaskan pendidikan di Universitas Muhammadiyah Riau.

P= Bagaimana sih, Kak, proses kreatif dalam penulisan Rainbow After the Rain?
J = Proses pembuatannya memang cukup rumit, banyaknya halangan seperti waktu, mood,kuliah, ataupun rutinitas lain. Hanya saja komitmen yang membuat saya kuat untuk terus melanjutkan kerangka naskah menjadi satu naskah utuh.

P = Good! ^^ Untuk penulisannya sendiri, Kak Uli memerlukan waktu berapa lama? Pasti ada juga dong suka dukanya. Hehe, bolehlah di-share. :D
J = Penulisan memakan waktu enam bulan, maklum masih penulis yang baru terjun. Hehe. Alhamdulillah ada Mika yang mau memberi masukan, nasihat, dan bimbingan sehingga naskah bisa rapi dan baik untuk dibaca. Suka dukanya, wah ini memang teramat sangat yah, dalam kepenulisan banyak sekali dukanya. Mulai dari hilangnya inspirasi juga terkadang malas yang menghantui. Ataupun waktu yang tidak bisa disesuaikan.

P = Sama seperti Mika, pertama menulis memakan waktu 6 bulan. :’D Setelah novel Rainbow After the Rain, apa Kak Uli sudah punya rencana untuk menelurkan karya baru?
J = Sudah ada rencana, mungkin belum saat ini. Ada beberapa pekerjaan yang membutuhkan fokus yang tinggi. Sementara disisi lain juga ada hasrat untuk segera melahirkan karya baru. Juga desakan dari beberapa sahabat yang membuat saya ingin sekali berenang ke dunia leterasi lagi. Sukanya, seseorang disana NP, selalu setia untuk menemani berjalan di dunia kepenulisan. Bukan hanya sekadar teman bicara namun dia segalanya.

P = Cieee. Mika tahu siapa itu inisial NP. :p Memang benar, ya, cinta selalu menjadi penyemangat. Uhuk! Sebenarnya Rainbow After the Rain ini bercerita tentang apa sih, Kak?
J = Rainbow After the Rain menceritakan kisah hidup seorang gadis bernama Clara, ditemani oleh sahabat setianya yaitu Cleo. Banyak yang dia alami, indahnya masa remaja, persahabatan yang kental, juga kisah cinta yang rumit hingga harus menghadapi beberapa kali konflik yang akhirnya menemukan titik terang setelah badai menderang.

P = Kenapa memilih judul Rainbow After the Rain? Apakah judul sudah ditentukan di awal sebelum menulis atau naskah selesai dulu baru mencari judul?
J = Judul Rainbow After the Rain dipilih setelah naskah selesai. Melihat alur dan cerita yang akhirnya menemukan titik terang maka di pilihlah judul ini.

P = Di mana asal ide itu muncul sehingga novel Rainbow After the Rain lahir?
J =  Ide itu hadir secara bertahap, pelan-pelan datang dari imajinasi. Juga beberapa diambil dari kisah dari beberapa sahabat, juga tentang kehilangan seorang sahabat dekat. Imajinasi dan juga aspirasi sahabat dekat yang menjadikan naskah ini memiliki kisah yang terkesan nyata.

P = Ada hikmah atau pesan gak Kak yang disampaikan dari novel Rainbow After the Rain? ^^
J = Banyak sekali hikmah, terutama bagi saya sendiri. Saya lebih belajar bagaimana cara mencintai baik itu kepada siapa pun, dan belajar menghargai apa yang telah dimiliki.

P = Apakah novel ini murni fiksi atau ada pengalaman pribadi yang terselip? :p
J = Ada percampuran antara fiksi dan pengalaman. Beberapa ada pengalaman pribadi ada juga pengalaman dari beberapa orang.

P = Riset apa saja untuk novel ini? ^^
J =  Riset yang dilakukan tempat, latar juga suasana. Juga riset mengenai tokoh juga pendalaman karakter serta pilihan nama yang pantas.

P = Minat Kak Uli sebenarnya di genre apa? ^^
J = Minat saya genre romantic.

P = Bagian yang Kak Uli suka di novel ini apa? :D
J = Bagian ketika Clara kehilangan seorang Reno, yang mencintainya sangat tulus.

P = Ehem! Ehemm! Kak Uli menyukai dunia tulis sejak kapan? ^^
J = Sejak di bangku SMP telah menulis. Pertama menulis Buletin Rohis. Alhamdulillah saya penulis pertama dari siswi perempuan saat itu.

P = Salute! Kenapa Kak Uli memutuskan jadi penulis?
J =  Sejak saya didesak oleh sahabat-sahabat saya menulis novel tepatnya satu tahun yang lalu.

P = Ini pertanyaan terakhir dari Mika, ya. Boleh dong Kak Uli share tips menulisnya untuk pemula yang masih belajar menulis. ^^
J =  Menulis adalah melatih kesabaran, jadi untuk kita yang baru belajar menulis, jangan pernah lelah merevisi. Sebab karya yang bagus diraih melalui jalan yang terjal juga panjang. Jangan pernah bergantung pada mood. Seorang penulis best seller pernah berkata pada saya "Jika menulis mengikuti mood, tidak usah jadi penulis". Awalnya saya merasa kesal atas ucapannya, namun setelah saya renungkan benar saja apa yang ia katakan. Penulis harus punya target untuk menyelesaikan naskahnya. Dan imajinasi tidak akan bertahan lama. Oleh sebab itu, segeralah menyelesaikan naskah. Juga perlu diingat, bahwa imajinasi hanya bertahan 1-3 bulan saja. Setelah itu akan sulit untuk kembali pada jalan cerita yang kita inginkan. Jangan pernah menyerah, ketika ingin memutuskan mengabaikan naskah ingatlah kembali perjuangan dari awal. Teramat disayangkan jika naskah hanya berakhir pada folder laptop saja. Bangkitlah dan mulai berkarya. You can if you want. Kamu bisa jika kamu mau.


P = Wah, inspiring banget, Kak Uli. Ketjup. :* Oke, terima kasih, ya, untuk waktunya, Kak Uli. Sukses terus untuk karya-karya Kak Uli selanjutnya.


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


P = Pertanyaan
J = Jawaban

P = Halo, Kak Adinda, ada waktu untuk berbincang sebentar saja mengenai novel Reach Out to Me? ^_^
J = Halo, Mika :D Selalu ada waktu untuk berbincang tentang novel perdana kesayanganku itu. Hehehe :D




P = Selain menulis, apa saja kesibukan Kak Adinda saat ini? :D
J = Yang pasti, selain menulis, aku masih sibuk sekolah.  Selain sekolah? Kayaknya nggak ada. Karena sudah kelas 3 SMA, aku sudah lengser dari OSIS.

P= Begitu, ya. Sebentar lagi kuliah dong. :p Tapi keren karena masih SMA sudah fokus nulis. :D O, iya. Bagaimana sih, Kak, proses kreatif dalam penulisan Reach Out to Me?
J = Proses pembuatan naskah ini cukup asyik :D hahaha, aku menulis konsep awalnya di buku catatan, kemudian pindah ke catatan ponsel, kemudian pindah ke laptop. Yang pertama kutentukan adalah judul, setelah itu nama-nama karakternya (termasuk ciri fisik dan sifat), judul per bab dan deskripsi singkat mengenai apa yang ingin kutulis di bab itu, kemudian barulah naskah keseluruhan.

P = Wah, dari buku catatan, lalu ke ponsel, baru ke laptop. Salute! Untuk penulisannya sendiri, Kak Adinda memerlukan waktu berapa lama? Pasti ada juga dong suka dukanya. Hehe, bolehlah di-share. :D
J = Reach Out to Me kukerjakan hampir satu bulan lebih. Suka dukanya banyak sekali :’) karena itu naskah novel pertamaku setelah sekian lama hanya menulis cerpen dan puisi, rasanya minder sekali (hiks) aku takut salah ini-itu. Sempat berhenti menulis sebentar (kalau tidak salah, aku ‘istirahat’ selama 5 hari) dan ingin berhenti, tidak jadi menyelesaikan naskah. Tetapi … rasanya dihantui naskah kalau tidak kuselesaikan *internal scream*. Dan TADAAA, alhamdullilah setelah kubaca ulang hasilnya cukup memuaskan :D Teman-teman yang sudah beli pun bilang kisahnya berkesan.

P = Alhamdulilah. Mika ikut senang. :D Setelah novel Reach Out to Me, apa Kak Adinda sudah punya rencana untuk menelurkan karya baru?
J = Alhamdullilah setelah Reach Out to Me, novelku yang keluar sudah tiga: Skates and Roses, The Journey Field, dan The Red Joker. Masih banyak naskah yang ingin aku tulis, jadi, pasti bertelur lebih banyak lagi. Hahaha :D

P = Keren. Karyanya makin banyak nih rupanya. Salute! :* O, iya. Sebenarnya Reach Out to Me ini bercerita tentang apa sih, Kak?
J = Tentang Alisa Collins dan kehidupannya setelah kedua orang tuanya bercerai :’) Yang pasti, bab-bab awal menceritakan kesedihan Alisa karena selain berpisah dengan ayahnya, juga berpisah dengan kakak perempuannya. Tetapi, kesedihan itu mulai terobati dengan kehadiran teman-teman barunya.

P = Kenapa memilih judul Reach Out to Me? Apakah judul sudah ditentukan di awal sebelum menulis atau naskah selesai dulu baru mencari judul?
J = Semua naskah kutentukan dulu judulnya :D baru menulis. Judul Reach Out to Me aku pilih karena yang pasti cocok dengan isi ceritanya. Arti “Reach Out to Me” itu “Menjangkau Diriku” atau “Meraihku”, kalau secara bahasa.

P = Di mana asal ide itu muncul sehingga novel Reach Out to Me lahir?
J = Sebenarnya, ide ini muncul setelah aku membaca cerpen mengenai gadis yang ingin bunuh diri karena tidak diperhatikan oleh keluarga dan teman-temannya. Tetapi pada akhirnya, naskahku jauh sekali konsepnya dengan cerpen itu. Alisa (tokoh utamaku) tidak pernah ingin bunuh diri, tidak pernah juga tidak diperhatikan keluarga dan teman-temannya. Yang seirama hanyalah ketika kesedihan sang tokoh utama pudar karena seseorang yang spesial datang dalam hidupnya.

P = Ada hikmah atau pesan gak Kak yang disampaikan dari novel Reach Out to Me?
J = Ada :’) melalui novel ini, aku sangat-sangat ingin menyampaikan bahwa kasih sayang keluarga, kepercayaan antar teman (atau dengan orang yang spesial,? Haha), dan selalu memaafkan itu adalah tiga hal yang sangat penting :’) percuma mendendam sesuatu yang kita tidak bisa ubah. Yang bisa kita lakukan hanya memperbaikinya.

P = Benar sekali Kak Adinda. :* Apakah novel ini murni fiksi atau ada pengalaman pribadi yang terselip? :p
J = Novel ini murni fiksi 100% nggak pakai pemanis buatan :D

P = Ah, masa sih? :p Riset apa saja untuk novel ini?
J = Riset, ya? Hmm …. Sebenarnya, aku tidak banyak riset untuk naskah ini selain membuka atlas untuk menentukan negara bagian mana yang cocok untuk tempat tinggal karakter utamaku (karena Alisa tinggalnya berpindah-pindah).

P = Minat Kak Adinda sebenarnya di genre apa?
J = Kalau bisa, sebenarnya aku ingin menjangkau semua genre. Tetapi, untuk saat ini, aku paling suka menulis naskah dengan tema petualangan, action, dan romance.

P = Bagian yang Kak Adinda suka di novel ini apa?
J = Aku paling suka bagian pengenalan karakter Arthur Willingford. Hahaha. Dia memang karakter favoritku. Kutu buku yang cool, kadang dingin, tetapi sebenarnya peduli.

P = Cowok tipe begitu banyak diinginkan para cewek. :’D Kak Adinda menyukai dunia tulis sejak kapan?
J = Sebenarnya aku suka nulis sejak SD. Tapi, yah, namanya juga anak SD. Tulisanku waktu itu masih sangat abstrak tingkat internasional. Mulai serius menulis, sih, sejak September 2015.

P = Kenapa Kak Adinda memutuskan jadi penulis?
J = Karena aku tidak puas hanya menjadi pembaca :D Aku juga ingin punya dunia lain (haha) dan karakter-karakter yang aku sayang. Asyik sekali menulis. Rasanya punya banyak lorong waktu dan pergi ke tempat yang berbeda-beda dengan karakter-karakter yang kita ciptakan.

P = Ini pertanyaan terakhir dari Mika, ya. Boleh dong Kak Adinda share tips menulisnya untuk pemula yang masih belajar menulis ^^
J = Aku pun masih pemula dan belajar :D Tapi, kalaulah aku boleh berbagi tips, aku menganjurkan agar para penulis baru ini jangan ragu-ragu untuk memulai! Tulis saja ^^ Jangan khawatir dengan kualitas naskahmu. Semakin sering kamu menulis, semakin berkembang kemampuanmu. Dan jangan lupa untuk belajar EBI. Hehehe.

P = Oke, terima kasih, ya, untuk waktunya, Kak Adinda. Sukses terus untuk karya-karya Kak Adinda selanjutnya. ^^

J = Sama-sama, Mika :D Terima kasih ^^



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Penulis dan novel Pelangi di Langit Mendung


P = Pertanyaan
J = Jawaban

P = Halo, Kak Rositi, ada waktu untuk berbincang sebentar saja mengenai novel Pelangi di Langit Mendung? :D
J = Halo juga,  Mika. Hehehe,  mari kita ngobrol.

Desain cover by Rizky Dewi Erfiana

P = Selain menulis, apa saja kesibukan Kak Rositi saat ini?
J = Oh, selain menulis, Kakakjuga kerja, kok.

P= Bagaimana sih, Kak, proses kreatif dalam penulisan Pelangi di Langit Mendung? ^^
J =Karena hanya tinggal mengurai cerita yang sudah ada,  jadi terbilang mudah. Sebab,  sebelum menjadi novel,  Pelangi di Langit Mendung sendiri merupakan salah satu cerpen yang tergabung dalam antologi bersama berjudul 'When I Open My Eyes', yang juga masih buku terbitan Loka Media :)

P = Hmm, begitu, ya. :D Untuk penulisannya sendiri, Kak Rositi memerlukan waktu berapa lama? Pasti ada juga dong suka dukanya. Hehe, bolehlah di-share. :D
J = Nah,  ceritanya begini.  Karena pada saat penggarapan novel Pelangi di Langit Mendung, Kakakknya Kakak yang kerja di Korea kebetulan lagi cuti, jadi Kakak sengaja kejar target biar novel Kakak ikut terbang ke Korea. Alhamdulillah, 10 hari selesai. Ya,  meski tetap harus ada revisi.  Kakak banyak belajar menulis dari Kak Devika--selaku salah satu editor Loka Media yang saat itu membantu Kakak :). Suka dukanya sendiri Kakak kerap terbawa emosi ketika tokoh Mendung menderita.  Tak jarang,  Kakak ngetik sambil sesegukan.  Dan finalnya,  Kakak nangis di pojok kasur sambil nekuk tubuh :D. Ini benar-benar nyesek  tapi kalau diingat kok terasa lucu, tapi tetap mengharukan :D

P = Ikut nangis di pojokan. L eh. Setelah novel Pelangi di Langit Mendung, apa Kak Rositi sudah punya rencana untuk menelurkan karya baru?
J = Sebenarnya karya sekaligus rencana banyak. Tinggal menunggu jodoh mereka saja.  Hehehe,  sambil doain,  yah :). Oh iya,  selain novel,  Kakak juga nulis cerpen :). Alhamdulillah,  beberapa di antaranya juga mulai dimuat di media selain antologi bersama :).

P = Alhamdulilah. Semoga semuanya lancar, ya, Kak. :* Sebenarnya Pelangi di Langit Mendung ini bercerita tentang apa sih, Kak?
J = Mmm,  Pelangi di Langit Mendung itu menceritakan seorang wanita super tabah sekaligus tangguh bernama Mendung Srikandi yang hidupnya dipenuhi duka layaknya namanya.

P = Mendung oh mendung. L Kenapa memilih judul Pelangi di Langit Mendung? Apakah judul sudah ditentukan di awal sebelum menulis atau naskah selesai dulu baru mencari judul?
J =Untuk judul sendiri sudah Kakak temukan sekaligus tetapkan saat awal mendapatkan ide cerita. Dan karena jalan ide ceritanya cenderung dipenuhi duka, judul Pelangi di Langit Mendung, sudah bikin Kakak cocok, selain nama tokoh cerita sendiri yang memang Mendung, Langit, jadi tidak ada pilihan lain yang jauh lebih cocok  kecuali judul tersebut :D.

P = Mika suka judulnya. :* Kalau boleh tahu, di mana asal ide itu muncul sehingga novel Pelangi di Langit Mendung lahir?
J = Boleh dibilang idenya terbilang spontan. Kakak sengaja mengambil ide cerita yang kiranya tidak mudah dilupakan. Lalu, Kakak kepikiran untuk menjadikan kenyataan yang sedang ramai diperbincangkan yaitu aksi teror bom di Sarinah MH-Thamrin 14 Januari 2016 kemarin sebagai ide cerpen Pelang di Langit Mendung, bertema 'rindu'untuk event LokaMedia,  saat itu :)

P = Mika masih ingat aksi teror itu. L Ada hikmah atau pesan gak Kak yang disampaikan dari novel Pelangi di Langit Mendung?
J = Banyak. Salah satunya ialah yang dilakukan tokoh Langit pada tokoh Mendung. Tentang kebahagiaan yang terlahir dari hal sederhana, juga cara menyikapi sebuah ketidakadilan :). Jangan sampai nggak baca novel Pelangi di Langit Mendung deh pokoknya :D

P = Apakah novel ini murni fiksi atau ada pengalaman pribadi yang terselip? :p
J = Mmm,  sebenarnya ada beberapa pengalaman pribadinya.  Tapi tentu sebatas karakter :D. Karena jujur saja,  karakter Mendung Srikandi itu karakter Kakak,  hehehe.

P = Wah, ketahuan deh. :p Riset apa saja untuk novel ini?
J = Untuk riset tidak terlalu banyak.  Yang paling Kakak detailkan hanyalah suasana sekitar Sarinah tak terkecuali kafe Starbucks-nya karena fokus final konflik sendiri adalah kematian tokoh Langit  yang menjadi salah satu korban bom pada aksi teror bom 14 Januari silam.  Sekadar riset via internet,  sebab tidak bisa ke sana secara langsung :D

P = Minat Kak Rositi sebenarnya di genre apa?
J = Untuk minat sendiri,  karena Kakak ini tipikal selalu tertantang hal baru, jadi Kakak ingin mencoba semua.Tetapi sepertinya dari semua genre yang sudah Kakak coba,  sad-romanceitu paling cocok untuk Kakak :)

P = Semoga penulisnya gak ikutan galau terus. Eh. :’D Bagian yang Kak Rositi suka di novel ini apa?
J = Sosok Mendung Srikandi yang sangat tabah sekaligus tangguh,  serta sosok Langit yang boleh dibilang, tipikal laki-laki idaman :D

P = Cieee. :p Kak Rositi menyukai dunia tulis sejak kapan?
J = Sebenarnya sejak SMP sudah suka.  Iya,  SMP sudah minat ke nulis meski belum kepikiran jadi penulis :D. Dan ke sini-sini setelah jadi penggemar KPOP,  Kakak jadi tambah sering nulis FF hingga akhirnya diminta bikin novel oleh pembaca  setia :). Itu pun sempat hanya sekadar coba-coba di tahun 2013.  Terhitung mulai serius nulis awal tahun 2016 pun itu gara-gara novel Pelangi di Langit Mendung  dilamar Primed Loka Media :D #senangnyaa :D

P = Mika juga ikut senang. *pelukk. Kenapa Kak Rositi memutuskan jadi penulis?
J = Semua pun tahu bila hidup ini tak seindah drama Korea. Dan karena Kakak memiliki banyak mimpi,  Kakak pun memutuskan untuk jadi penulis. Karena dengan menulis,  kita akan memiliki dunia kita :). Selain itu,  kita juga akan tetap hidup dalam karya tulis meski kita sudah meninggal sekalipun :)

P = Hidup tak seindah drama Korea. Uhuk! :’D Ini pertanyaan terakhir dari Mika, ya. Boleh dong Kak Rositi share tips menulisnya untuk pemula yang masih belajar menulis J
J = Hmmm,  dari pelajaran yang Kakak dapat,  meski kita pemula,  alangkah baiknya kita juga mempelajari dasar menulis selain membaca dan menuangkannya dalam tulisan.  Oh iya,  KBBI  dan EBI sangat membantu ketika kita bimbang menggunakan kosakata :D. Semangat dan tetap berkarya :)

Oke, terima kasih, ya, untuk waktunya, Kak Rositi. Sukses terus untuk karya-karya Kak Rositi selanjutnya. J






Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me


Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit consequat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amet nibh vulputate.

Follow Us

Labels

Artikel event menulis Katalog Buku Kirim Naskah Kumpulan Cerita Kursus Menulis Online Literasi Novel novelet Review Buku & Film Tentang Kami Wawancara Penulis

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2017 (62)
    • ►  Oktober (44)
    • ►  April (11)
    • ►  Februari (1)
    • ▼  Januari (6)
      • Wawancara dengan Penulis Novelet Secangkir Rindu d...
      • Wawancara dengan Penulis Buku Aku (Bukan) Gay, Tho...
      • Wawancara dengan Penulis Novel Rainbow After the R...
      • Wawancara dengan Penulis Novel Reach Out to Me, Ad...
      • Wawancara dengan Penulis Novel Pelangi di Langit M...
      • Wawancara dengan Penulis Novelet Ace the Ripper, D...
  • ►  2016 (24)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (16)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Februari (1)
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by BeautyTemplates