Jika umurmu pendek, maka sambunglah dengan tulisan
(Pramoedya Ananta Toer)
Kata-kata Pramoedya Ananta Toer di atas merupakan kata bagi orang yang ingin memanjangkan umur atau mengabadikan diri dalam generasi setelah mereka. Sebab memanjangkan umur bukan hanya dilakukan dengan menjaga kesehatan dan bersilaturahim. Namun juga menghasilkan karya dalam bentuk tulisan. Ya, dengan tulisan maka hikmah pemikiran, rekaman peristiwa, analisis pemikiran, curahan perasaan serta manfaat ilmu dari seseorang akan melintasi ruang dan waktu.
Jika diperhatikan secara sederhana untuk saat ini saja umur orang jarang yang mencapai usia 70 hingga 80 tahun, apalagi mencapai sampai seratus tahun. Jika mengacu pada usia nabi Muhammad SAW, usia beliau hanya sampai 63 tahun. Maka, jika ingin usia dan nama kita lebih dikenang dan abadi, ada benarnya jika melakukan sarannya Paramoedya Ananta Toer, yaitu menghasilkan karya melalui tulisan.
Al Ghazali pernah berkata “Jika kau bukan anak raja dan juga bukan ulama besar, maka menulislah”. Beliau yang seorang ulama dan sufi besar saja tekun menulis dan hingga kini karya-karyanya menjadi rujukan banyak orang yang ingin mengetahui, mempelajari, mendalami serta menekuni tasawuf. Hingga kini nama Al Ghazali abadi bukan hanya di kalangan pemerhati dan penekun dunia tasawuf, tetapi menjadi banyak rujukan akan dunia sufi.
Nelson Mandela pernah berkata: “Otak yang cerdas dan hati yang baik merupakan kombinasi yang bagus. Kalau ditambah lagi dengan lidah yang terdidik ataupun kemampuan menulis, itu baru spesial.Hal ini tentu berarti bahwa bila seseorang memiliki otak yang cerdas namun tidak bisa menulis, maka akan menjadi kemubadziran, ilmunya hanya dikonsumsi sendiri. Andaikan dia menghasilkan tulisan, maka ilmu itu akan bermanfaat, bisa dipelajari, bisa dikaji dan juga diteliti kembali. Sehingga hal ini akan mendukung atmosfer penyebaran ilmu.
Lihatlah orang-orang besar yang namanya hingga kini masih dikenang, bahkan walaupun tanah sudah mengerogoti tubuh mereka menjadi tulang belulang. Karl Marx dengan buku Das Kapitalnya begitu melegendanya di mana-mana, terlebih di mata pengikutnya. Begitu juga para Imam empat Mahzab di dalam fiqih, Imam Syafii, Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Hambali. Mereka semua adalah para penulis kitab yang produktif. Dan nama-nama itu sampai kini abadi dalam pencari jejak ilmu.
Indonesia memiliki Tan Malaka yang terkenal dengan teori Madilog (Materialisme, dialektika dan logika) yang masih sering dibicarakan para aktivis mahasiswa. Tidak ketinggalan ulama besar sepanjang sejarah negeri ini, Buya Hamka, masih melekat kekuatan magnum opus karya beliau saat beliau dipenjara yang masih menjadi rujukan para pencari ilmu, Tafsir Al Azhar.
Ilmu Filsafat pasti sangat lekat dengan Socraets Plato, Aristoteles. Mereka semua tokoh filsafat dari Athena yang hingga kini kata-kata bijaknya sering didiskusikan para penggemar filsafat. Semenatra di bidang filsafat Islam, siapa yang tidak kenal dengan Al Ghazali, sang Hujjatul Islam dengan karya Masterpiecenya yang berjudul Ihya Ulumuddin.
Di bidang Sastra ada, JK Rowling yang menjadi salah satu wanita terkaya versi majalah Forbes dengan kekayaan sebesar US$1 Miliar karena menorehkan karya novel serial Harry Potter. Sedangkan di bidang sastra lainnya, siapa yang tidak kenal dengan Kahlil Gibran, “yang sering dijuluki dengan “Nabi Cinta”, penyair Lebanon yang sempat tinggal di Amerika yang namanya sering menjadi sumber rujukan dan kutipan bila membahas mengenai cinta.
Mungkin bukti bukti nyata akan nama-nama di atas menunjukkan bahwa tulisan menyambung umur mereka atau membuat keabadian nama mereka. Nama mereka terkenang melintasi masa, bermotamorfosis di antmosfer pemikiran generasi setelah mereka dan menjadi rujukan atau acuan bagi perbendaharaan ilmu pengetahuan. Ada baiknya kita renungi kembali pesan Pramoedya,“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

2 komentar
Sepatu...sepakat dan.setujuuuu
BalasHapusSepatu...sepakat dan.setujuuuu
BalasHapus