Mungkin jika ada waktu senggang, coba lihatlah kerabat, sahabat, teman dekat, atau siapa saja saat hatinya sedang berbunga-bunga karena sedang jatuh cinta. Perasaan yang berbunga-bunga tak menentu itu sampai sampai bisa dirasakan oleh orang sekelilingnya. Padahal orang di sekeliling subjek yang sedang jatuh cinta bukanlah pelaku, tetapi mereka tetap mampu merasakan pancaran kegembiraan orang yang sedang jatuh cinta. Maka tidak heran bila orang yang jatuh cinta nampak seperti orang gila. Mereka memiliki dunianya sendiri saat sedang dimabuk cinta. Tidak peduli apa kata orang.
Ajaklah berbicara mengenai kekasihnya atau orang yang sedang ditaksirnya untuk orang yang sedang jatuh cinta. Maka akan nampak kesenangan mereka dalam mengekspresikan tentang kekasihnya. Kegembiraan itu bisa ditunjukkan melalui mata yang berbinar-binar saat menceritakan orang yang disukainya, bisa tidak lelah memandang foto orang yang disukainya.
Betapa betahnya mereka membahas akan keindahan kekasihnya saat dimabuk cinta. Waktu rasanya tidak ada habisnya digunakan untuk membahas tentang si dia. Banyak ragam dan banyak cara untuk mengekspresikan keadaan jiwa sosok yang sedang jatuh cinta. Kata kata, kerlingan mata, puisi, salam rindu, lagu cinta beserta musiknya, dan tentu saja tidak terlewatkan ekspresi melalui tulisan.
Ekspresi perasaan cinta melalui tulisan lumrah diekspresikan dalam bentuk puisi-puisi cinta dan surat-surat cinta dengan kata yang mendayu-dayu, yang dalam bahasa anak muda sekarang sering disebut lebay. Maka di zaman ayah ibu muda dulu, sekitar tahun 80-an ke bawah, bahasa cinta adalah melalui surat-surat cinta. Sering terlihat di film yang diperankan Rano Karno saat muda, dalam film “Galih dan Ratna” ada adegan di mana surat cinta begitu puitis mendayu-dayu. Lalu di film “Gie” masih ingat akan pesona puisi Soe Hok Gie yang begitu memikat perasaan kekasihnya. Ada juga film “Ada Apa Dengan Cinta” yang menonjolkan sisi kepuitisan puisi Rangga. Di sinilah ketajaman pena bertemu dengan kelembutan kertas lalu mengalirkan rasa cinta dalam bait bait kata penuh kerinduan dan rasa cinta.
Memang dalam perputaran zaman sampai sekarang, kata-kata yang dulu dimediakan melaui pena dan kertas kini sudah mulai tergeser oleh tust tust keyboard computerdan tombol tombol HP, lalu sudah tidak butuh tinta karena tulisan tulisan itu sudah lebih cepat menyebar di dunia maya dalam wujud e-maildan komentar Facebook, Twitter, Instragram dan berbagai media sosial lainnya. Sangat berbeda dengan zaman pulpen tinta botol masih populer dan menggunakan jasa kurir pak pos yang menunggu hitungan hari untuk bisa membaca jenak-jenak kerinduan perasaan sang kekasih dalam surat cinta. Terlebih jika kertas surat berwarna-warni disertai aroma parfum kertas yang semerbak mewangi.
Di masa kini, SMS penuh kata-kata mesra disusun dan ditekan dalam hitungan menit, lalu tekan tombol untuk send, maka dalam hitungan detik SMS berisi kata rayuan gombal lebayyang mendayu-dayu itu sudah terkirim dan dibaca oleh si pujaan hati. Ruang dan waktu memang sudah benar benar dilipat di era tekhnologi dan informasi. Waktu dipersingkat, tempat diperdekat. Sungguh sangat hebat.
Namun, biar bagaimanapun dahsyatnya kekuatan dan simpelnya fungsi dari fitur tekhnologi informasi yang berupa SMS, e-mail, Facebook dan sejenisnya. Surat cinta yang tertulis pada kertas tetap memiliki pesonanya sendiri. Memiliki keunikan dan kharismanya yang beda. Menurut Anis Matta, surat-surat itu adalah wakil jiwa, di mana tanda ketersambungan di alam ruh kalau raga tak bersua. Imam Ibnu Hazem dalam tulisan Leher Sang Merpatijuga mengatakan kalau surat cinta lebih nikmat dari ucapan lisan, tatapan mata, dan semua pertemuan raga lainnya.
Ada juga kumpulan surat Kahlil Gibran untuk May Ziadah, di mana itu sudah berlangsung lebih dari dua puluh tahun, sehingga ada penerbit yang merangkum menjadi buku. Dalam surat-surat itulah tertulis kekaguman Gibran akan keagungan dan pesona wanita dari Timur, yang itu ditemukan dalam diri May Ziadah. Tentu saja, selain surat surat itu, karya karya Gibran lainnya tentang cinta hingga kini masih abadi dalam dekapan masa yang terus berputar.
Dalam surat cinta juga seseorang bisa lebih bebas mengekspresikan perasaan lewat pena untuk menyuarakan batin jiwa. Jika dalam kesedihan dan kerinduan yang memuncak seorang gadis menulis surat untuk kekasihnya, hingga nampak tinta yang di kertas surat itu luntur karena tetesan air mata kerinduan, maka sang pembaca seakan makin meresapi puncak puncak kerinduan sang kekasih yang mengharapkannya. Tidak terasa akan lembaran-lembaran kertas yang sudah banyak digoreskan tinta pena, dan jiwa seakan merasa lebih tenang setelah meluapkan kerinduan. Hati juga menjadi terobati dengan hadirnya surat dari idaman hati.
Di sinilah tulisan seakan berbicara dari hati ke hati tanpa penghalang. Menelisik perasaan terdalam akan kerinduan yang disalurkan. Seringkali dalam surat cinta itu terselip puisi kerinduan hati. Maka di sini nampak akan peranan tulisan. Secara hukum fisika kita akan teringat kata dari manusia yang dinobatkan manusia tercerdas pada abad 20 Masehi, Albert Einstein yang berbunyi “Energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan”energi hanya bisa dirubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya.
Begitu pula dengan energi cinta, saat seseorang jatuh cinta, maka pancaran energi yang dirasakan seakan akan begitu berlimpah. Maka energi yang berlimpah itu perlu dialirkan atau diubah bentuk, salah satunya ini menjadi alasan kenapa orang yang sedang jatuh cinta begitu menggebu-gebu membahas tentang kekasihnya. Mulai dari menyanyikan lagu-lagu cinta, menjadi penyair dadakan, penikmat sastra melankolis, perasaannya lebih halus, dan hidup menjadi lebih dan selalu indah.
Maka, cinta pun perlu dituliskan untuk semakin memupuk rasa dan menghantarkan asa kerinduan. Karena dalam surat cinta, kedalaman perasaan bertabur dengan kekuatan bahasa. Sungguh indah nan elok. Mungkin puisi dari Sapardi Djoko Damono bisa sedikit mewakili akan perasaan membuncah yang terpahat dalam bait bait puisi.
AKU INGIN
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
David Zulkifli A

0 komentar