Hambatan Menulis

by - 20.44




Jika dulu profesi penulis sering dipandang sebelah mata, sekarang keadaan berbalik seratus delapan puluh derajat. Banyak orang berlomba-lomba ingin menjadi penulis. Ini merupakan kabar yang menggembirakan dan membanggakan. Hanya saja menjadi penulis tidak semudah yang dibayangkan. Ada banyak sekali hambatan yang membayangi para penulis—terutama yang masih pemula—untuk menjadi penulis hebat. Apa saja hambatan itu? Simak yuk!

1. Banyak alasan

Katanya sih ingin jadi penulis, tapi setiap kali disuruh menulis ada saja alasan untuk menghindar. Ya sibuklah, tidak sempatlah, capeklah, suasana tidak mendukunglah, tidak ada idelah, sedang tidak mood-lah, inilah, itulah. 


Penulis seperti ini sekali-kali perlu “digebukin” (Bercanda!). Ada satu hal yang harus diingat, mereka yang bercita-cita ingin menjadi penulis hampir bisa dipastikan diawali dari hobi atau kesenangan. Jika seseorang menyukai sesuatu, apakah dia akan menghindar melakukan hal yang disukainya itu? Jawabannya adalah tidak! Orang yang menyukai sepak bola tidak mungkin menghindar menonton sepak bola. Orang yang menyukai film tidak mungkin menghindar menonton film, begitu juga dengan menulis. Orang yang menyukai menulis seharusnya tidak akan menghindar dari menulis. Seandainya ada yang menghindar maka orang itu patut bertanya pada diri sendiri, “Apa aku benar-benar menyukai menulis?” Karena jika kita sudah menyukai sesuatu, apa pun yang menjadi penghalang atau hambatan pasti akan disingkirkan! (Kalau sudah cinta, apa pun akan dilakukan! Betul?) Jadi kalau mau jadi penulis jangan banyak alasan, menulislah!


2. Suka Menunda-nunda

“Aku mau nulis, tapi nanti habis cuci piring!”
“Aku mau nulis, tapi nanti habis nyapu!”
“Aku mau nulis, tapi nanti pulang dari jalan-jalan!”
“Aku mau nulis, tapi nonton drama Korea dulu!” (Hehe)

Hayo! Siapa yang suka begini? Beginilah penulis yang suka menunda-nunda. Katanya mau ikut lomba cerpen, tapi tidak segera dikerjakan. Ya keburu habis waktu lombanya! Hei, ingat, sebuah peribahasa Arab mengatakan bahwa “Waktu adalah pedang.” Apalagi badi penulis yang nyaris selalu dikejar-kejar deadline sampai liang kubur (kalau seumur hidupnya jadi penulis). Tidak apa-apa kalau hanya tidak jadi ikut lomba cerpen. Masalahnya seandainya kamu menulis naskah pesanan dari penerbit mayor, diberi deadline malah santai-santai, bersiap-siaplah dihabisi oleh pedang waktu! Ada penerbit mayor yang memberlakukan sistem denda bagi penulis yang melewati batas deadline. Jika terlambat satu minggu maka honor akan dipotong sekian rupiah. Tapi kalau kamu kelewat baik hati dan rela honornya disunat terus ya tidak apa-apa, kok!


3. Tidak Disiplin

Penulis tidak disiplin adalah penulis yang “angin-anginan”. Menulisnya “semau gue” atau “suka-suka gue”. Sehari menulis, sehari tidak. Hari ini bisa ngebut menulis sepuluh halaman, tapi melanjutkannya satu bulan kemudian. Ngebut lagi, ngadat lagi. Nanti ujung-ujungnya tidak selesai. Alasannya sudah bosan. Ganti menulis cerita baru, angin-anginan lagi. Ini penulis maunya apa? Kapan naskahnya mau selesai kalau begitu?
Akan lebih baik kalau kita tetapkan waktu khusus dan target khusus untuk menulis. Misalnya jam menulis setiap pukul lima (sekadar info, waktu Subuh adalah waktu di mana otak kita dalam keadaan paling fresh) sampai jam tujuh pagi. Atau kapan pun terserahlah. Yang penting tepati waktu ini. Lalu ciptakan target, setidaknya sehari harus menulis dua atau tiga halaman. Sedikit sedikit tapi rutin, jauh lebih baik daripada angin-anginan.


4. Tidak sabaran

Mau jadi penulis tapi tidak punya kesabaran menyelesaikan naskah. Ya ampun, menulis itu kan bukan main sulap yang begitu bilang sim salabim sambil melambaikan tongkat langsung jadi. Harus sabar mengetikkan huruf demi huruf menjadi kata, kata demi kata menjadi kalimat, kalimat demi kalimat menjadi paragraf, paragraf demi paragraf menjadi halaman, halaman demi halaman menjadi bab, sampai bab demi bab menjadi satu naskah utuh. Penulis yang tidak sabaran baiknya alih profesi saja. Apalagi penulis yang tidak sabar menanti keputusan naskah (yang ini tidak perlu dibahas panjang lebar, tanyakan saja pada penerbitnya langsung. Apa yang dia rasakan saat menghadapi penulis grusa-grusu begini? Hehe).


5. Tidak percaya diri

“Aku mau jadi penulis, tapi tulisanku jelek. Gimana, ya? Aku malu kalau ada orang lain yang baca ….” Terus maksudmu apa? Mau menulis sendiri dan dibaca sendiri? Hei, ketahuilah, para penulis hebat dan terkenal itu dulunya juga tidak langsung bagus. Tulisan mereka menjadi luar biasa setelah melalui proses yang panjang. Jadi jangan minder. Percaya diri penting dalam hal apa pun, termasuk dalam menulis.


6. Malas 

Mau jadi penulis tapi malas membaca malas dan melihat berita. Kalau buka Facebook rajin, tapi kalau ada berita penting hanya dibaca judulnya lalu asal komentar yang tidak “nyambung”. Ujung-ujungnya debat kusir tak berujung. Kalau ada info lomba hanya dilihat sekilas dan menanyakan sesuatu yang sudah dijelaskan, membuat jengkel panitia. Bagaimana mau jadi penulis kalau soal informasi saja malas mencari? 


7. Terlalu banyak berpikir

Coba bayangkan. Sebuah bus yang dipadati oleh penumpang, lalu saat bus itu berhenti, semua orang berebut turun dan tidak ada yang mau mengalah. Apa yang terjadi? Mereka akan sulit keluar. Seperti itulah analoginya orang yang terlalu banyak berpikir. Terlalu banyak berpikir malah membuat otak semakin kacau dan tidak bisa menulis apa-apa. Lebih baik jika menulis dalam keadaan rileks. Ide yang tadinya bersembunyi akan bermunculan satu per satu dengan lancar. Kuncinya, menulislah dengan gembira tanpa perasaan terbebani atau tertekan.


8. Mental kerupuk

Baru dikritik sedikit sudah putus asa. Kalah lomba menulis sudah tidak mau ikut lomba lagi. Baru ditolak penerbit satu kali sudah menyerah tidak mau menulis lagi. Tidak mendapat dukungan… (eh, banyak lho para penulis yang cita-citanya dulu ditentang oleh orangtua). Padahal kalau mau jadi penulis itu harus punya mental baja, harus tahan banting. Dikritik, ditolak, disepelekan, sudah jadi makanan sehari-hari. Yang mentalnya seperti kerupuk akan tersingkir.


(Liana Safitri)


You May Also Like

3 komentar

  1. 11 tahun menulis.
    puluhan kali ikut lomba, 1x juara 1, 2x juara 2, 2x juara 3.
    berapa kali kalah tidak terhitung lagi.
    naskah2 novel bertumpuk dan belum diterbitkan.
    and still doing it.
    www.everna.tk

    BalasHapus
  2. Jadi kesindir. Thanks . Sangat memotivasi

    BalasHapus