• Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Download

Mengenai Saya

Unknown
Lihat profil lengkapku

Catatan kecilku 2

facebook google twitter tumblr instagram linkedin

Sabtu Bersama Bapak ialah film dengan genre Drama Keluarga yang diangkat berdasarkan novel laris karya Adithya Mulya. Digarap oleh rumah produksi Maxima Picture dengan Monty Tiwa sebagai sang sutradara.


Film yang tayang perdana pada Juli ini menggambarkan cerita Gunawan sebagai suami sekaligus bapak dari keluarga Garnida.  Ia memiliki seorang istri bernama Itje yang juga ibu dari kedua putranya,  Satya (8) dan Cakra (5).

Kehidupan bahagia mereka berubah saat Gunawan tahu bahwa hidupnya hanya tersisa satu tahun lagi. Dia gelisah memikirkan sang istri yang harus berjuang sendiri mendidik anak-anaknya. Ia takut karena tak bisa membimbing kedua putranya itu hingga dewasa.

Akhirnya Gunawan memutuskan sesuatu.  Kematian boleh saja membawanya pergi, namun kematian tak bisa menghalanginya untuk terus menyayangi Satya dan Cakra.  Ia pun membuat banyak rekaman berisikan pesan-pesan yang diucapkannya sendiri untuk kedua anaknya.

Setelah Gunawan tiada lagi, Itje sang istri membuat pertemuan antara kedua buah hati dengan sang bapak melalui video rekaman.  Setiap hari Sabtu Satya dan Cakra duduk bersama Itje untuk mendengarkan pesan-pesan bapak. Sabtu Bersama Bapak.

Waktu terus bergulir sampai Satya dan Cakra menjadi pria dewasa.  Satya (33) telah membangun keluarga sendiri bersama wanita cantik bernama Rissa (32) dan dikaruniai 2 anak laki-laki.  Ia bekerja sebagai tenaga offshore di pantai lepas Denmark. Sedangkan Cakra (30) bekerja sebagai Deputi Director di sebuah Bank Asing di Jakarta dan masih berstatus lajang. Sang Ibu,  Itje tetap melanjutkan usaha warung makan di Bandung.

Pesan yang disampaikan bapak selalu menjadi acuan bagi Satya hingga ia terkesan kaku dalam berpikir bahkan terhadap istrinya sendiri.  Sementara Cakra bertahun-tahun fokus menyiapkan materi sehingga lupa menyiapkan diri untuk mencari  pasangan. 

Ternyata  sekian lama Itje sang ibu menyembunyikan sebuah rahasia yang tidak ingin diketahui kedua anaknya. Itje berpikir bahwa sewaktu  kecil mereka tidak menyusahkan Itje,  maka saat ini Itje tidak ingin menyusahkan mereka. 

Adapun para pemain yang membintangi film ini diantaranya Abimana Aryasatya sebagai Gunawan, Ira Wibowo sebagai Itje, Deva Mahendra sebagai Cakra, Acha Septriasa sebagai Rissa, Arifin Putra sebagai Satya, Sheila Dara Aisha sebagai Ayu, Ernest Prakasa sebagai Firman.


By: Riza Azzizah

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Merupakan film mystery thriller yang diadopsi dari novel The Girl on The Train karya Paul Hawkins. Di produksi oleh Amblin Entertaiment bersama Dreamwork SKG dan dikabarkan bahwa sutradara film tersebut ialah Tate Taylor dengan skenario yang ditulis oleh Erin Cressida Wilson.


The Girl on The Train telah rilis pada tahun 2015 dengan uraian kisah seorang wanita muda yang dikenal dengan nama Rachel. Saat itu ia tengah melakukan perjalanan menuju London dengan kereta. Di dalam kereta ia tak sengaja melihat pasangan yang begitu romantisnya. Mereka adalah Scott dan Megan.

Sayangnya di tengah kebahagian sepasang itu, kematian Megan datang menjemput. Kematian Megan begitu misterius hingga sulit untuk dipecahkan. Rachel yang menjadi saksi mata terpaksa ikut terlibat dalam pemecahan kasus ini.

Dalam misi pemecahan kasus pembunuhan ini, Rachel tampak begitu teliti dalam mengungkapnya. Tak sendiri, Rachel pun dibantu oleh teman dan kerabatnya.

Adapun para bintang yang memainkan peran dalam film ini di antaranya Emily Blunt (Rachel Watson), Rebecca Ferguson (Anna), Haley Banget (Megan), Edgar Ramirez (Dr. Kamar Abdic), Laura Prepon (Cathy), Luka Evans (Scott), Justin Theroux (Tom), Allison Janney, Lisa Kudrow (Monica), Darren Goldstein (Man in Suit), Nicole Bonifacio (Suburban Commuter/Bistro Patro), Marko Caka (Bussinesman Gallery), Lana Young (Doctor), Mauricio Oracle (Conductor), Rossi Gibby (David).


By: Rizza Azizah
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Film yang mengacu berdasarkan novel best seluler karya Nicholas Sparks mengisahkan perjalanan cinta antara Allie Hamilton, seorang putri cantik dari keluarga kaya raya dengan Noah Calhoun, pria miskin yang bekerja di sebuah penggergajian. Meski begitu sederhana pria desa ini ialah seorang yang cerdas dan puitis.


Pertemuannya dengan Allie terjadi di sebuah pasar malam. Tanpa sengaja Noah melihat Allie dan langsung jatuh hati padanya. Tanpa ragu, Noah mendekat dan mengajak Allie untuk berkencan. Allie tak langsung menerima tawaran dari Noah. Namun pria ini tak kehabisan akal. Ia menarik simpati Allie dengan cara yang unik sehingga Allie pun menerima ajakan Noah.

Sepasang kekasih ini melewati liburan musim panas yang sangat menyenangkan. Noah membawa Allie untuk melakukan banyak hal yang sangat berkesan. Bagi Allie semua hal itu tak pernah dialami dan dirasakannya sebelum bertemu Noah.

Memiliki banyak perbedaan tak menjadikan mereka makin jauh. Meski sering kali terjadi pertengkaran mereka senantiasa bersama karena setidaknya mereka memiliki sebuah persamaan yang telah menyatukan hati mereka. Yaitu cinta.

Pada akhir musim panas tersebut, Noah mengajak Allie mengunjungi sebuah rumah tua yang sangat besar. Ia tak peduli dengan segala kerusakan dan ketidaklayakan untuk dihuni karena Noah membawa Allie ke rumah itu untuk mengatakan sesuatu. Dengan penuh keyakinan Noah mengatakan bahwa suatu hari ia akan membeli rumah itu dan memperbaikinya hingga menjadi rumah besar bercat putih. Ia juga akan membuat serambi yang luas di sekitarnya serta ruang melukis di lantai atas yang menghadap langsung ke danau. Mereka berdua menghabiskan waktu bersama dalam rumah itu dengan membicarakan impian-impian mereka.

Di tengah kebahagian Allie dan Noah serta rencana indah mereka, sebuah masalah datang menguji cinta mereka. Anne, ibunda Allie tidak merestui hubungan putrinya dengan Noah. Bukan tanpa alasan, namun karena Noah adalah pria miskin yang tidak terjamin masa depannya. Ia menganggap bahwa pria seperti itu sangat tidak pantas bersanding dengan putrinya. Sementara Allie hanya bisa pasrah.

Akhirnya keluarga Allie memutuskan untuk kembali ke Charlestown. Hal ini menjadi pukulan hebat bagi Noah. Cinta dan jiwanya serasa turut terbawa bersama Allie. Terlebih pertemuan terakhirnya justru sebuah pertengkaran dengan Allie, Noah pun semakin menyesal atas apa yang terjadi. 
Tak lantas menyerah, Noah lalu berusaha menghubungi Allie lewat surat yang dikirimkannya. Sepucuk surat yang ditulis setiap hari selama satu tahun. Namun sayang, surat surat Noah tak pernah sampai pada sang kekasih. Hingga surat yang ke-365, semuanya ditahan oleh Anne. Anne merahasiakan semua surat yang dikirim oleh Noah.

Merasa putus asa, Noah tak lagi mengirim surat setelah setahun berlalu tanpa kabar dari Allie. Ia meninggalkan semua kenangannya bersama Allie dan memulai lembaran baru.
Ditemani oleh sahabatnya--Fin, Noah memutuskan untuk ikut wajib militer pada Perang Dunia II di Afrika Utara dan Eropa. Sedangkan Allie menjadi relawan yang merawat korban perang.

Sekian lamanya waktu dan peristiwa yang terjadi memang memisahkan Allie dan Noah. Namun cerita yang terukir selalu menghantui keduanya. Sampai Allie dibuat jatuh cinta oleh Lon Hommand Jr. tentara yang pernah dirawatnya saat perang dunia II. Long adalah pria sempurna menurut kacamata orang tua Allie. Ia dirasa layak menjadi suami untuk putrinya.

Pria yang sukses, lucu, cerdas, tampan dan memesona ini membuat hati Allie luluh untuk menerima lamarannya. Namun Allie tak mengerti mengapa wajah Noah seolah terlintas di hadapannya saat menjawab “Ya” untuk pinangan Lon.

Allie mulai dihadapkan oleh dilema saat melihat foto Noah bersama rumah besar yang sudah dipugar seperti janjinya dulu. Noah telah benar-benar bekerja keras dan mewujudkan impiannya. Berita ini sampai pada Allie melalui harian lokal yang dibacanya.

Allie merasa harus meyakinkan dirinya atas pilihan hatinya sendiri. Ia pun meminta pada Lon untuk menyendiri dengan alasan menghilangkan stress akibat persiapan pernikahan. Lalu wanita ini pun menemui Noah dan justru terjadi perdebatan akibat kesalahpahaman.

Pada siapakah  pilihan Allie jatuh? Film ini memiliki akhir yang mengejutkan lho! Diperankan oleh Ryan Gosling, Rachel McAdams, James Garner, Gena Rowlands, John Allen, James Marsden. Film yang disutradarai oleh Nick Cassavetes ini diproduksi oleh New Line Cinema.


By: Rizza Azizah

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Film The Shack diangkat dari sebuah novel karya William Paul Young dengan judul yang sama terbitan tahun 2007. Disutradarai oleh Stuart Hazeldine dan John Fusco sebagai penulis skenario. Film yang dipersembahkan oleh Summit Enterteinment ini dibintangi oleh Sam Worthington sebagai Mack, Radha Michelle sebagai Nan, Octavia Speilberg sebagai Papa, Graham Green sebagai Not Papa, Ryan Robinson sebagai Emily Ducette, Megan Charpentier sebagai Kate Phillips.


Menceritakan tentang Mack, seorang Ayah yang mempunyai 5 anak. Suatu hari Mack membawa tiga anaknya untuk kemping di Oregon.  Di tengah perjalanan,  mereka berhenti di dekat air terjun Multnomah untuk berkemah sejenak. Di tengah peristirahatan, dua anak Mack mengisi waktu dengan bermain kano namun tiba-tiba terbalik dan nyaris tenggelam. 

Mack berusaha menyelamatkan mereka dan luput dari satu anaknya yang tetap di kemah.  Saat berhasil dalam penyelamatan dan kembali dengan dua anaknya,  ia mendapati putri yang ditinggalnya telah menghilang. Dengan perasaan cemas ia meminta bantuan polisi untuk menyelesaikan maasalahnya. Ia berpikir bahwa putrinya telah menjadi korban penculikan oleh pembunuh berantai “Little Ladykiller”.  Polisi menyelidiki tempat kejadian dan menemukan baju gadis itu dengan bekas darah yang melekat namun entah di mana tubuhnya. Mack seketika terjatuh lemas mendengar laporan itu. 

Film ini kental dengan kepercayaan umat Kristen. Penonton akan dibawa untuk turut merasakan sulitnya kehilangan seorang anak yang sangat dicintai tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.  


By: Rizza Azizah

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Diangkat dari novel karya Nicholas Sparks dengan sutradara film Julie Anne Robinson, The Last Song memaparkan cerita tentang gadis 17 tahun bernama Veronica “Ronnie” Miller yang kerap memberontak semenjak kedua orang tuanya bercerai. Sang Ayah, Steve Miller berpindah ke Carolina Utara selama 3 tahun. Sejak itu Ronnie mengabaikan dunia musik yang telah diajarkan oleh sang Ayah. Steve adalah mantan profesor di Juilliard School dan merupakan pianis konser yang kini hidup tenang di Wrightsville Beach, sebuah kota kecil di Georgia. Ronnie juga enggan untuk berkomunikasi lagi dengan sang Ayah. Ketika Juillard School bermaksud untuk menjadikan Ronnie murid di sana, Ronnie tak berkeinginan untuk masuk.


Dikisahkan bahwa Steve berkesempatan memperbaiki segala hal antara dirinya dengan Ronnie. Pada waktu liburan musim panas, mantan istrinya, Kim Miller mengantar Ronnie dan adik laki-lakinya Jonah untuk menetap di rumah Steve yang tenang di Wrightsville Beach, sebuah kota kecil di Georgia.

Sesampainya di sana, Ronnie justru sedih dan menjauh dari semua hal yang ada di sekitarnya, termasuk si tampan Will Blakelee yang bertemu dengannya saat minuman Ronnie tak sengaja tumpah ke pakaiannya.

Suatu hari, Ronnie menemukan sarang kura-kura Loggerhead Sea di dekat rumahnya dan saat melindungi sarang kura-kura tersebut, ia bertemu lagi dengan Will yang tengah bekerja sebagai sukarelawan untuk merawat aquarium. Setelah menjaga telur-telur kura-kura di predator bersama Will, Ronnie mulai memiliki perasaan untuk Will.

Esoknya, Will mengajak Ronnie saat bekerja dan menunjukkan aquarium yang dirawatnya. Kemudian keduanya menuju ke pantai. Namun di tengah langkah mereka Ronnie bertemu dengan Ashley, mantan kekasih Will. Ashley mengatakan bahwa dulu ia pun sering dibawa Will mengunjungi aquarium tersebut. Ronnie mulai ragu dan tak ingin menjadi seperti mantan kekasih Will itu. Will mencium Ronnie dan meyakinkannya bahwa Ronnie tak seperti wanita lainnya.
Bersamaan waktu dengan cintanya pada Will yang bersemi, ia pun mulai menjalin ikatan dengan baik antara dirinya dengan sang Ayah. Lalu suatu hari Ayah Ronnie pingsan dan segera dilarikan ke rumah sakit. Ternyata Steve didiagnosis menderita kanker perut sejak lama. Hati Ronnie terpanggil untuk mulai memperhatikan sang Ayah karena tidak banyak  lagi waktunya untuk bersama.

Ketika itu pula suatu hal buruk justru terjadi. Ronnie bertengkar dengan Will dan mereka pun memutuskan hubungan. Musim gugur datang dan Jonah pulang untuk bersekolah. Sementara Ronnie tetap tinggal untuk merawat Ayahnya. Ronnie juga menyambung pekerjaan Ayahnya yang sudah tak mampu menulis karena sakit yang menderanya. Tetapi Steve sempat menyelesaikan sebuah lagu berjudul “For Ronnie” dan usai lagu indah itu tercipta, sang Ayah meninggal.

Di pemakaman Ayahnya, Ronnie menampilkan lagu terakhir yang ditulis oleh Ayahnya itu. Sepulang dari sana, Ronnie bersiap untuk kembali ke New York karena memutuskan untuk masuk ke Juilliard School. Namun saat hendak pergi, Ronnie dikejutkan dengan Will yang menunggunya di luar. Dan Will pun meminta maaf atas semua hal yang terjadi. Kemudian Will menceritakan bahwa ia akan dikirim ke Columbia agar terus bersama Ronnie.

Dibintangi oleh Miley Cyrus sebagai Ronnie Miller, Greg Kinnear sebagai Steve Miller, Bobby Coleman sebagai Jonah Miller, Liam Hemsworth sebagai Will Blakelee, Kate Vernon sebagai Susan Blakelee, Carly Chaikin sebagai Blaze, Kelly Preston sebagai Kim, Hallock Beals sebagai Scott, Nick Searcy sebagai Tom Blakelee.


By: Rizza Azizah


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


The BFG ialah film bergenre petualangan fantasi yang disutradarai oleh Steven Speilberg. Penulis naskahnya ialah Meliisa Mathison.  Diadopsi dari novel karya Roald Dahl,  film ini menggambarkan perjalanan Sophie,  gadis berusia 10 tahun dari London yang berteman dengan seorang raksasa yang baik. Sophie menjuluki si raksasa sebagai BFG (Big Friendly Giant). The  BFG sendiri memiliki tinggi 8 meter dengan daun telinga yang runcing dan indera penciuman yang tajam.


Sophie sangat terkejut saat pertama kali bertemu The BFG, kemudian ia dibawa ke sebuah gua. Begitu baiknya The BFG terhadap Sophie membuat teman raksasa lain tak suka dan menjauh.  Terlebih karena The BFG tak mau memakan anak-anak.

Sophie dibawa oleh The BFG untuk berjalan-jalan menyusuri negara mimpi. Ia menceritakan bahwa di situlah tempatnya mengumpulkan mimpi untuk dikirimkan pada anak-anak. Di tengah kedamaian Sophie dan The BFG bersama imajinasi mereka, lalu datang raksasa yang lebih besar bernama Bloodbotler.  Bloodbotler terdiri dari dua raksasa yang terkenal suka memakan siapa pun orang yang ada di depannya. 

Sohpie dan The BFG lantas pergi menemui Ratu Victoria di London untuk mengabarinya bahwa  kejahatan hampir datang dan siap menyerang manusia. Sophie berusaha menjelaskan pada Ratu, bahwa raksasa itu benar-benar ada. Hingga akhirnya mereka bersama-sama menyusun rencana untuk melawan kedatangan para raksasa.

Film garapan rumah produksi Amblin Enterteinment dan Walt Disney Picture ini rilis pada 1 Juli 2016. Diperankan oleh Jemaine Clement, Mark Rylance (The BFG), Rebecca Halo (Mary), Bill Hader (Giant), Dalfur Darri Olaffson (Olaffson Olafsson), Penelope Wilson ( The Queen), Adam Godley, Ruby Barnhill (Sophie), Michael Adamthwaite, Graham Curry (Parade Guardsman), John Empat Tracy (Footman #1), Marilyn Norwegia (Matron), Julia Torrance (Orphan #2), Haigh Sutherland Daniel Father) dan Daniel Bacon.


By: Rizza Azizah

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar



Apa itu Elipsis? Elipsis adalah tanda berupa tiga titik yang diapit spasi (...), menggambarkan kalimat yang terputus-putus atau menunjukkan bahwa dalam suatu petikan ada bagian yang dihilangkan.

Elipsis biasanya digunakan untuk dialog yang akhirannya menggantung. Bisa juga untuk tulisan bergenre horor, biasanya banyak ditemui elipsis di dalamnya. Di situ, elipsis digunakan untuk menegaskan rasa takut. Elipsis bisa juga untuk suara benda yang nyaring. Tapi terkadang banyak sekali ditemui elipsis tidak pada tempatnya, atau salah dalam penulisan dan penggunaannya.

Oke, saya akan kasih contoh elipsis yang benar.


Elipsis yang digunakan dalam dialog yang akhirannya menggantung.

“Mungkin seharusnya kita tidak pernah bertemu. Kalau sekarang yang tersisa hanya luka. Tapi aku tidak menyesali ini semua. Aku ....” Gadis itu terisak, tubuhnya gemetar.
Coba perhatikan elipsis sebelum tanda petik tutup. Akhiran dalam dialog itu menggantung. Karena itu diletakkan elipsis (...) di sana, tapi karena setelah tanda petik tutup tidak ada ‘katanya’, ‘ujarnya’, dll, maka elipsis itu ditambahi satu tanda titik lagi, untuk mengakhiri.

Elipsis yang digunakan dalam tulusan genre horor.

Napas Mona seakan berhenti. “Ssss ... sssiapa i-iitu?” teriak Mona dengan suara mencicit.
Elipsis dalam dialog tulisan genre horor untuk penegasan perasaan takut. Untuk mendukung suasana horor yang tengah dialami si tokoh.

Elipsis yang digunakan untuk suara benda.

Tapp ...! Tapp ...!
Seketika langkah kaki Aria terhenti. Suara langkah kaki di belakangnya itu pun ikut berhenti. Aria menelan ludah. Jantungnya berdetak kencang. Perlahan gadis itu membalikkan tubuhnya.
Elipsis yang digunakan untuk suara benda itu dengan catatan, suara bendanya itu cukup nyaring, atau terdengarnya cukup berkepanjangan.

Elipsis bisa juga digunakan dalam deskripsi.

Lelaki itu terdiam untuk sesaat. Ia menghela napas. Sorot matanya berubah sendu. Sungguh tidak pernah terpikirkan olehnya bahwa hal ini bisa terjadi. Sesulit itukah bagi dirinya untuk bahagia? Atau ... apakah kebahagiaan itu teramat mahal dan tak pantas untuknya?

Elipsis yang digunakan dalam deskripsi contoh di atas adalah bermakna keraguan.

Itulah penjelasan tentang elipsis dan penggunaan atau penempatannya. Semoga bermanfaat 


Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar



Apa itu sudut pandang? Sudut pandang adalah cara penulis dalam menceritakan sesuatu pada naskahnya. Dalam menulis, penentuan sudut pandang akan berpengaruh dalam karakter tokoh juga panjang pendeknya sebuah tulisan.

Sudut pandang penulis ada tiga, yaitu:

Sudut pandang orang pertama.

Di mana penulis memosisikan dirinya sebagai tokoh utama dalam cerita. Biasanya akan ditandai dengan adanya kata ganti ‘aku’ dalam cerita yang ditulisnya.


Sudut pandang orang kedua.


Di mana penulis memosisikan dirinya sebagai tokoh sampingan yang menceritakan tokoh utama. Biasanya akan ditandai dengan adanya kata ganti ‘kamu’ atau ‘kau’ dalam  cerita yang ditulisnya.


Sudut pandang orang ketiga.

Di mana penulis memosisikan dirinya sebagai orang luar atau pengamat yang menceritakan tokoh utama dan tokoh-tokoh yang lain. Biasanya ditandai dengan kata ganti ‘dia’ atau ‘ia’ dalam cerita yang ditulisnya.

Banyak penulis yang sering memakai sudut pandang orang pertama dan sudut pandang orang ketiga. Kenapa? Karena bagi para penulis, dua sudut pandang itu yang lebih mudah dipakai dalam tulisan. Sudut pandang orang pertama kebanyakan dipaka penulis saat menulis sebuah cerpen. Sedangkan sudut pandang orang ketiga biasanya dipakai penulis saat menulis sebuah novel.

Sudut pandang orang kedua sangat jarang dipakai. Kenapa? Karena sudut pandang ini sangat sulit diterapkan oleh para penulis. Sangat jarang bahkan sangat sulit menemukan sebuah cerpen atau novel yang memakai sudut pandang orang kedua.

Untuk penulis pemula, alangkah baiknya jangan terburu atau tertantang untuk mencoba menerapkan sudut pandang orang kedua ke dalam tulisan. Karena cara penerapan yang salah, akan berakibat fatal dan menyebabkan tulisan menjadi kacau.

Nah, sudut pandang manakah yang akan kalian pilih dalam menulis?
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Penulis pemula atau seseorang yang baru saja mengenal dunia literasi sering kesulitan dalam menerapkan tanda baca koma dan titik sebelum tanda petik tutup dalam dialog. Tanda baca yang sering ditemukan dalam tulisan penulis pemula adalah tanda baca titik. Setiap mrngakhiri dialog dalam tulisannya, sebelum tanda petik tutup, selalu tanda baca titik yang digunakan.

Ada perbedaan dalam penggunaan tanda baca titik dan koma sebelum tanda petik tutup. Dan tentu saja ada aturannya dalam penggunaan dua tanda baca tersebut.
Tanda baca koma digunakan ketika setelah tanda petik tutup ada katanya, ucapnya, tukasnya, jawabnya, dll.


Contoh:
“Aku hanya ingin ada di sampingmu. Itu udah lebih dari cukup,” ucap Mia sembari tersenyum.

“Mungkin aku yang salah karena terlalu berharap banyak padamu,” lirih Gia dengan suara yang nyaris tak terdengar.


Tanda baca titik digunakan ketika setelah tanda petik tutup tidak ada katanya, ucapnya, tukasnya, jawabnya, dll. 
Contoh:
“Entahlah. Aku harus sedih atau senang saat bertemu denganmu setelah sekian lama.” Lia menghela napas panjang, matanya terlihat begitu sendu.

“Oke, aku akui kamu benar. Dan aku memang salah. Ya, aku selalu menjadi pihak yang salah. Selalu dan selalu.” Fiko tertawa sinis


Coba perhatikan contoh dialog-dialog di atas dengan saksama. Penggunaan tanda baca koma dan titik yang benar adalah seperti contoh-contoh di atas. Semoga bermanfaat! 

Share
Tweet
Pin
Share
5 komentar


Jika umurmu pendek, maka sambunglah dengan tulisan
(Pramoedya Ananta Toer)

Kata-kata Pramoedya Ananta Toer di atas merupakan kata bagi orang yang ingin memanjangkan umur atau mengabadikan diri dalam generasi setelah mereka. Sebab memanjangkan umur bukan hanya dilakukan dengan menjaga kesehatan dan bersilaturahim. Namun juga menghasilkan karya dalam bentuk tulisan. Ya, dengan tulisan maka hikmah pemikiran, rekaman peristiwa, analisis pemikiran, curahan perasaan serta manfaat ilmu dari seseorang akan melintasi ruang dan waktu.


Jika diperhatikan secara sederhana untuk saat ini saja umur orang jarang yang mencapai usia 70 hingga 80 tahun, apalagi mencapai sampai seratus tahun. Jika mengacu pada usia nabi Muhammad SAW, usia beliau hanya sampai 63 tahun. Maka, jika ingin usia dan nama kita lebih dikenang dan abadi, ada benarnya jika melakukan sarannya Paramoedya Ananta Toer, yaitu menghasilkan karya melalui tulisan.

Al Ghazali pernah berkata “Jika kau bukan anak raja dan juga bukan ulama besar, maka menulislah”. Beliau yang seorang ulama dan sufi besar saja tekun menulis dan hingga kini karya-karyanya menjadi rujukan banyak orang yang ingin mengetahui, mempelajari, mendalami serta menekuni tasawuf. Hingga kini nama Al Ghazali abadi bukan hanya di kalangan pemerhati dan penekun dunia tasawuf, tetapi menjadi banyak rujukan akan dunia sufi.

Nelson Mandela pernah berkata: “Otak yang cerdas dan hati yang baik merupakan kombinasi yang bagus. Kalau ditambah lagi dengan lidah yang terdidik ataupun kemampuan menulis, itu baru spesial.Hal ini tentu berarti bahwa bila seseorang memiliki otak yang cerdas namun tidak bisa menulis, maka akan menjadi kemubadziran, ilmunya hanya dikonsumsi sendiri. Andaikan dia menghasilkan tulisan, maka ilmu itu akan bermanfaat, bisa dipelajari, bisa dikaji dan juga diteliti kembali. Sehingga hal ini akan mendukung atmosfer penyebaran ilmu.

Lihatlah orang-orang besar yang namanya hingga kini masih dikenang, bahkan walaupun tanah sudah mengerogoti tubuh mereka menjadi tulang belulang. Karl Marx dengan buku Das Kapitalnya begitu melegendanya di mana-mana, terlebih di mata pengikutnya. Begitu juga para Imam empat Mahzab di dalam fiqih, Imam Syafii, Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Hambali. Mereka semua adalah para penulis kitab yang produktif. Dan nama-nama itu sampai kini abadi dalam pencari jejak ilmu.
Indonesia memiliki Tan Malaka yang terkenal dengan teori Madilog (Materialisme, dialektika dan logika) yang masih sering dibicarakan para aktivis mahasiswa. Tidak ketinggalan ulama besar sepanjang sejarah negeri ini, Buya Hamka, masih melekat kekuatan magnum opus karya beliau saat beliau dipenjara yang masih menjadi rujukan para pencari ilmu, Tafsir Al Azhar.

Ilmu Filsafat pasti sangat lekat dengan Socraets Plato, Aristoteles. Mereka semua tokoh filsafat dari Athena yang hingga kini kata-kata bijaknya sering didiskusikan para penggemar filsafat. Semenatra di bidang filsafat Islam, siapa yang tidak kenal dengan Al Ghazali, sang Hujjatul Islam dengan karya Masterpiecenya yang berjudul Ihya Ulumuddin.

Di bidang Sastra ada, JK Rowling yang menjadi salah satu wanita terkaya versi majalah Forbes dengan kekayaan sebesar US$1 Miliar karena menorehkan karya novel serial Harry Potter. Sedangkan di bidang sastra lainnya, siapa yang tidak kenal dengan Kahlil Gibran, “yang sering dijuluki dengan “Nabi Cinta”, penyair Lebanon yang sempat tinggal di Amerika yang namanya sering menjadi sumber rujukan dan kutipan bila membahas mengenai cinta.

Mungkin bukti bukti nyata akan nama-nama di atas menunjukkan bahwa tulisan menyambung umur mereka atau membuat keabadian nama mereka. Nama mereka terkenang melintasi masa, bermotamorfosis di antmosfer pemikiran generasi setelah mereka dan menjadi rujukan atau acuan bagi perbendaharaan ilmu pengetahuan. Ada baiknya kita renungi kembali pesan Pramoedya,“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”


Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar


Bagaimana memulai menulis? Jawabannya ya menulis!

Tapi memang ada hal-hal yang harus dilakukan untuk membuat kita terbiasa menulis. Membuat menulis menjadi suatu kebiasaan. Caranya? Simak!

1. Singkirkan semua godaan

Godaan yang bisa membuatmu berpaling dari menulis. Internet, jalan-jalan, nonton, main ke rumah teman, camilan, hp... Singkirkan semua itu! Cabut modem, matikan televisi, nonaktifkan hp, tutup toples makanan, dan kalau ada teman yang mengajak pergi, katakan, “Maaf, ya, aku lagi sibuk!” (Sibuknya sibuk betulan menulis lho, ya, bukan pura-pura!) Mungkin langkah-langkah ini kelihatan terlalu ekstrem, tapi percayalah, penulis artikel ini sudah mempraktekkannya sendiri. Ketika kuota habis dan tidak bisa internetan, dompet kosong tak bisa pergi jalan-jalan, pulsa ludes tak bisa telepon atau SMS, semua teman kesulitan mengambil hari libur, tak punya camilan untuk dimakan, sampai televisi rusak, semua itu punya hikmah tersendiri. Hanya Microsoft Word yang bisa berfungsi dan itu adalah suasana yang sangat mendukung untuk menulis (mau tidak mau jadi rajin). Tentu kamu tidak perlu berubah jadi miskin untuk rajin menulis. Hanya perlu menyingkirkan semua godaan-godaan tadi. 


2. Niat

Katakan dalam hati kalau aku niat menulis! Segala sesuatu kalau sudah dilandasi dengan niat yang kuat biasanya akan berhasil. Soal ibadah, salat, puasa, zakat, haji, semua dimulai dengan niat. Bersedekah juga tergantung niatnya. Untuk menulis juga harus niat.

3. Doa

Doa itu penting, karena kita selalu mengingat dan menyebut nama Tuhan di dalamnya. Coba katakan dengan jujur, siapa yang sebelum menulis selalu berdoa lebih dulu? Ingat tidak saat sekolah, sebelum pelajaran dimulai bapak/ibu guru selalu meminta kita berdoa, entah itu bersuara atau pun di dalam hati? Mungkin tanpa sadar terkadang kita menyepelekan rutinitas ini. Akibatnya, setelah tidak lagi bersekolah (lulus) sebagian dari kita jarang atau bahkan tidak pernah berdoa lagi (sebagian lho, ya, bukan semua ). Berdoa hanya pada saat salat atau ibadah lain, mau makan, mau tidur, ketika akan melakukan perjalanan jauh, atau dalam situasi yang menakutkan. Berdoa sebelum membuka laptop untuk memulai menulis juga tak kalah penting. Karena dengan demikian Tuhan akan melindungi kita dari godaan setan yang terkutuk, eh, salah... dari godaan menulis yang terkutuk. Yuk, biasakan berdoa sebelum menulis!

4. Menulis

Tahap keempat yang harus dilakukan hanyalah: MENULIS DARI AWAL SAMPAI AKHIR!

5. Puji diri sendiri

Ketika kamu berhasil menyelesaikan satu tulisan, satu cerpen, satu novel atau jenis tulisan apa pun—tidak peduli hasilnya baik atau buruk—kamu perlu memuji diri sendiri. Eittss, tunggu dulu! Ini tidak bermaksud narsis, ini berbeda dengan memuja diri sendiri. Kita sebagai manusia pasti ingin dihargai. Tapi penghargaan pertama harus datang dari sendiri (kalau kita tidak bisa menghargai diri sendiri, bagaimana orang lain mau menghargai kita?). Hargai diri sendiri dengan mengatakan dalam hati, “Kamu hebat bisa menyelesaikan tulisan ini! Satu tulisan sudah berhasil kamu selesaikan, jadi kamu pasti bisa menyelesaikan tulisan kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya! Ayo semangat! Semangat!” Nah, pujian pada diri sendiri ini sekaligus berfungsi menyemangati diri sendiri, jadi kita tidak akan bergantung pada orang lain untuk masalah “semangat menulis”. Tapi ingat, jengan berlebihanm jangan kebablasan!

(Liana Safitri)

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Keberadaan internet bagi penulis sebenarnya bantuan atau godaan, sih? Ya itu tergantung bagaimana cara kita menggunakannya. 

Internet merupakan bantuan yang luar biasa bagi penulis masa kini karena melalui internet kita bisa mendapatkan berbagai manfaat. Informasi melimpah dari si Google atau si Yahoo, sehingga ketika kita membutuhkan bahan untuk tulisan tinggal cari melalui jalan ini. Alamat penerbit dan syarat-syarat kirim naskah langsung bisa kita ketahui dengan meluncur ke website penerbit yang bersangkutan. Tips-tips menulis, langkah-lagkah menulis, atau bentuk berbagai jenis tulisan juga dapat dengan mudah kita dapatkan di internet. Profil para penulis top dan pengalaman jatuh bangunnya yang sangat menginspirasi pun bisa diperoleh dengan mudah lewat internet. Informasi lomba atau event-event menulis hampir setiap hari mondar-mandir di beranda Facebook. Kita bisa berteman dengan orang-orang yang satu minat, sama-sama suka menulis dan berbagi pengalaman. Sampai kita jadi bingung, mau ikut yang mana, ya? (Padahal naskah sendiri terbengkalai!) Itu adalah sebagian kecil bantuan-bantuan yang bisa penulis dapatkan dari internet.

Godaannya?

1. Membaca berita yang sebenarnya tidak terlalu penting (yang isinya lelucon, sumbernya tidak jelas, atau berisi gosip).
2. Nonton MV atau drama di Youtube sampai keterusan atau lupa waktu. “Aku cuma mau nonton MV Xiah Joon Suh terbaru, lima menit saja ....” Tapi malah keterusan nonton drama Korea terbaru sampai dua puluh episode secara maraton.

3. Buka Facebook

Tadinya mau masuk ke grup menulis, tanya kata “memberi tahu” itu yang benar disambung atau dipisah? Yang benar “memberi tahu” atau “memberitahu”? Karena belum ada anggota grup yang memberi jawaban, lihat-lihat beranda. Ada info lomba menulis cerpen di majalah XYZ, lalu share dan pasang status, “Pengen ikut lomba ini, tapi naskahku sendiri belum kelar-kelar ... huhu.” Aduh ... yang begini ini... tolonglah STOP MENGELUH DI FACEBOOK! Masalahmu, tulisanmu, tak akan selesai hanya dengan meratap di Facebook. Mengeluh hanya akan menunjukkan betapa rapuh dirimu. Dan sebaik-baiknya tempat mengadu adalah Tuhan! Daripada mengeluh, lebih baik buka Microsoft Word dan mulai menulis!


4. Debat kusir 

Buka Facebook pasang status: Pejabat ABC tukang ingkar janji, bisanya korupsi, tipu sana tipu sini, hobinya piknik ke luar negeri, tapi rakyatnya mati kelaparan karena nggak punya nasi!!!

Komentar 1: Eh, jangan sok tahu deh, lo! Pejabat ABC masih lebih baik daripada pilihan lo, Pejabat DEF! Pidato aja pake teks!

Komentar 2: Mending pejabat DEF, pidato pake teks tapi nggak pernah curi uang rakyat! Pejabat ABC pinter ngomong doang!

Komentar 3: Ah, Pejabat ABC sama Pejabat DEF nggak ada bedanya! Nggak ada yang memihak rakyat!

Komentar 2: ...

Stop! Debat kusir begini tidak akan ada akhirnya. Biasanya hanya akan saling memaki dan mencela, apalagi yang berbau politik. Sekarang kamu mau jadi penulis atau mau jadi politikus? 

5. Dari tadi mau nulis, tapi kok idenya sembunyi terus? Ambil ponsel, foto halaman word yang kosong, unggah di Facebook, “Betapa sulitnya menulis.” Eh, jangan lupa, calon penulisnya juga harus foto dulu. Selfie. 

Mulut monyong, lidah melet, elus rambut, kedip mata.
Nah, itulah beberapa bantuan dan godaan internet bagi para penulis. Ada yang mau menambahkan? Yuk, gunakan internet dengan bijak!

(Liana Safitri)


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar



“Aku nggak mau kirim naskah ke penerbit itu, honornya sedikit!”
“Aku nggak mau ikut lomba di penerbit itu, hadiahnya kecil banget!”
“Aku nggak mau nulis di Blog itu! Buat apa? Nggak pernah dibayar, kok! Nanti keenakan yang punya Blog!”

Apa sih, penulis kalkulator?

Penulis kalkulator adalah penulis yang hanya mau menulis jika mendapatkan honor besar. Sebenarnya sah-sah saja menginginkan honor besar. Tidak usah munafik, semua orang butuh uang dan suka dengan jumlah besar. Yang jadi masalah adalah jika penulis kalkulator masih seorang penulis pemula. Menulisnya saja angin-anginan, banyak salah ketik, suka lewat deadline, dan isi tulisannya jauh dari berkualitas. Masih berani minta honor besar? Ambil cermin dan berkacalah!

Saran untuk para penulis pemula, jangan terlalu memusingkan soal honor. Yang perlu kamu lakukan hanya menulis, menulis, dan menulis. Menulislah sebanyak-banyaknya, di mana saja, kapan saja. Menulis di Blog pribadi, Blog jurnalisme warga, menulis untuk dikirimkan ke penerbit, ke majalah, ke lomba, dan lain-lain. Honor besar, senang dan bersyukur. Honor kecil, tetap harus disyukuri (kecil juga rezeki), tidak dibayar tidak apa-apa! Bagi penulis yang masih pemula, tulisannya sudah dimuat dan sudah diapresiasi itu saja sudah merupakan suatu hal yang bagus. Anggap sebagai langkah awal menuju keberhasilan. Bagaimanapun juga kita sudah mendapat kesempatan untuk belajar. 

Tapi ingat, tidak dibayar bukan berarti tulisannya boleh seenaknya atau ngawur. Apa pun yang bisa kita lakukan, berikanlah yang terbaik. Menulis berarti membuat karya. Kalau tulisanmu ngawur hanya karena tidak dibayar (padahal sebenarnya bisa menulis dengan baik), tetap saja nama kamu yang dibawa-bawa nanti. “Ini tulisannya siapa, sih? Udah ceritanya jelek, ejaannya banyak yang salah lagi! Tulisan begini kok dimuat!” Kalau namamu yang disebut pembaca, pengkritik ini pasti malu (kalau kamu peduli dengan tulisanmu dan punya rasa malu). Jadi sebaiknya, dalam situasi dan kondisi apa pun, menulislah dengan total! Menulislah dengan kemampuan terbaikmu! Tidak usah risau jika kamu tidak dibayar. Jika kamu melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh, percayalah, walaupun hari ini tidak dibayar—oleh manusia—suatu hari nanti Tuhan yang akan membayarnya. Tuhan Maha Kaya, bayaran yang diberikan Tuhan pasti jauh lebih besar daripada bayaran yang bisa diberikan oleh manusia.

Hei para penulis yang sedang menapaki langkah awal, simpan dulu kalkulatormu untuk nanti setelah jadi penulis top. Kalau sudah terkenal kamu boleh pasang tarif. Sekarang menulislah sebaik mungkin, berapa pun hasilnya disyukuri, kalau tidak dibayar, anggap kamu beramal dan bergembiralah menanti bayaran Tuhan.

(Liana Safitri)
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar




Mungkin jika ada waktu senggang, coba lihatlah kerabat, sahabat, teman dekat, atau siapa saja saat hatinya sedang berbunga-bunga karena sedang jatuh cinta. Perasaan yang berbunga-bunga tak menentu itu sampai sampai bisa dirasakan oleh orang sekelilingnya. Padahal orang di sekeliling subjek yang sedang jatuh cinta bukanlah pelaku, tetapi mereka tetap mampu merasakan pancaran kegembiraan orang yang sedang jatuh cinta. Maka tidak heran bila orang yang jatuh cinta nampak seperti orang gila. Mereka memiliki dunianya sendiri saat sedang dimabuk cinta. Tidak peduli apa kata orang.
Ajaklah berbicara mengenai kekasihnya atau orang yang sedang ditaksirnya untuk orang yang sedang jatuh cinta. Maka akan nampak kesenangan mereka dalam mengekspresikan tentang kekasihnya. Kegembiraan itu bisa ditunjukkan melalui mata yang berbinar-binar saat menceritakan orang yang disukainya, bisa tidak lelah memandang foto orang yang disukainya.

Betapa betahnya mereka membahas akan keindahan kekasihnya saat dimabuk cinta. Waktu rasanya tidak ada habisnya digunakan untuk membahas tentang si dia. Banyak ragam dan banyak cara untuk mengekspresikan keadaan jiwa sosok yang sedang jatuh cinta. Kata kata, kerlingan mata, puisi, salam rindu, lagu cinta beserta musiknya, dan tentu saja tidak terlewatkan ekspresi melalui tulisan.
Ekspresi perasaan cinta melalui tulisan lumrah diekspresikan dalam bentuk puisi-puisi cinta dan surat-surat cinta dengan kata yang mendayu-dayu, yang dalam bahasa anak muda sekarang sering disebut lebay. Maka di zaman ayah ibu muda dulu, sekitar tahun 80-an ke bawah, bahasa cinta adalah melalui surat-surat cinta. Sering terlihat di film yang diperankan Rano Karno saat muda, dalam film “Galih dan Ratna” ada adegan di mana surat cinta begitu puitis mendayu-dayu. Lalu di film “Gie” masih ingat akan pesona puisi Soe Hok Gie yang begitu memikat perasaan kekasihnya. Ada juga film “Ada Apa Dengan Cinta” yang menonjolkan sisi kepuitisan puisi Rangga. Di sinilah ketajaman pena bertemu dengan kelembutan kertas lalu mengalirkan rasa cinta dalam bait bait kata penuh kerinduan dan rasa cinta.
Memang dalam perputaran zaman sampai sekarang, kata-kata yang dulu dimediakan melaui pena dan kertas kini sudah mulai tergeser oleh tust tust keyboard computerdan tombol tombol HP, lalu sudah tidak butuh tinta karena tulisan tulisan itu sudah lebih cepat menyebar di dunia maya dalam wujud e-maildan komentar Facebook, Twitter, Instragram dan berbagai media sosial lainnya. Sangat berbeda dengan zaman pulpen tinta botol masih populer dan menggunakan jasa kurir pak pos yang menunggu hitungan hari untuk bisa membaca jenak-jenak kerinduan perasaan sang kekasih dalam surat cinta. Terlebih jika kertas surat berwarna-warni disertai aroma parfum kertas yang semerbak mewangi.
Di masa kini, SMS penuh kata-kata mesra disusun dan ditekan dalam hitungan menit, lalu tekan tombol untuk send, maka dalam hitungan detik SMS berisi kata rayuan gombal lebayyang mendayu-dayu itu sudah terkirim dan dibaca oleh si pujaan hati. Ruang dan waktu memang sudah benar benar dilipat di era tekhnologi dan informasi. Waktu dipersingkat, tempat diperdekat. Sungguh sangat hebat.
Namun, biar bagaimanapun dahsyatnya kekuatan dan simpelnya fungsi dari fitur tekhnologi informasi yang berupa SMS, e-mail, Facebook dan sejenisnya. Surat cinta yang tertulis pada kertas tetap memiliki pesonanya sendiri. Memiliki keunikan dan kharismanya yang beda. Menurut Anis Matta, surat-surat itu adalah wakil jiwa, di mana tanda ketersambungan di alam ruh kalau raga tak bersua. Imam Ibnu Hazem dalam tulisan Leher Sang Merpatijuga mengatakan kalau surat cinta lebih nikmat dari ucapan lisan, tatapan mata, dan semua pertemuan raga lainnya.
Ada juga kumpulan surat Kahlil Gibran untuk May Ziadah, di mana itu sudah berlangsung lebih dari dua puluh tahun, sehingga ada penerbit yang merangkum menjadi buku. Dalam surat-surat itulah tertulis kekaguman Gibran akan keagungan dan pesona wanita dari Timur, yang itu ditemukan dalam diri May Ziadah. Tentu saja, selain surat surat itu, karya karya Gibran lainnya tentang cinta hingga kini masih abadi dalam dekapan masa yang terus berputar.
Dalam surat cinta juga seseorang bisa lebih bebas mengekspresikan perasaan lewat pena untuk menyuarakan batin jiwa. Jika dalam kesedihan dan kerinduan yang memuncak seorang gadis menulis surat untuk kekasihnya, hingga nampak tinta yang di kertas surat itu luntur karena tetesan air mata kerinduan, maka sang pembaca seakan makin meresapi puncak puncak kerinduan sang kekasih yang mengharapkannya. Tidak terasa akan lembaran-lembaran kertas yang sudah banyak digoreskan tinta pena, dan jiwa seakan merasa lebih tenang setelah meluapkan kerinduan. Hati juga menjadi terobati dengan hadirnya surat dari idaman hati.
Di sinilah tulisan seakan berbicara dari hati ke hati tanpa penghalang. Menelisik perasaan terdalam akan kerinduan yang disalurkan. Seringkali dalam surat cinta itu terselip puisi kerinduan hati. Maka di sini nampak akan peranan tulisan. Secara hukum fisika kita akan teringat kata dari manusia yang dinobatkan manusia tercerdas pada abad 20 Masehi, Albert Einstein yang berbunyi “Energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan”energi hanya bisa dirubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya.
Begitu pula dengan energi cinta, saat seseorang jatuh cinta, maka pancaran energi yang dirasakan seakan akan begitu berlimpah. Maka energi yang berlimpah itu perlu dialirkan atau diubah bentuk, salah satunya ini menjadi alasan kenapa orang yang sedang jatuh cinta begitu menggebu-gebu membahas tentang kekasihnya. Mulai dari menyanyikan lagu-lagu cinta, menjadi penyair dadakan, penikmat sastra melankolis, perasaannya lebih halus, dan hidup menjadi lebih dan selalu indah.
Maka, cinta pun perlu dituliskan untuk semakin memupuk rasa dan menghantarkan asa kerinduan. Karena dalam surat cinta, kedalaman perasaan bertabur dengan kekuatan bahasa. Sungguh indah nan elok. Mungkin puisi dari Sapardi Djoko Damono bisa sedikit mewakili akan perasaan membuncah yang terpahat dalam bait bait puisi.

AKU INGIN
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

David Zulkifli A


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar



Jika dulu profesi penulis sering dipandang sebelah mata, sekarang keadaan berbalik seratus delapan puluh derajat. Banyak orang berlomba-lomba ingin menjadi penulis. Ini merupakan kabar yang menggembirakan dan membanggakan. Hanya saja menjadi penulis tidak semudah yang dibayangkan. Ada banyak sekali hambatan yang membayangi para penulis—terutama yang masih pemula—untuk menjadi penulis hebat. Apa saja hambatan itu? Simak yuk!

1. Banyak alasan

Katanya sih ingin jadi penulis, tapi setiap kali disuruh menulis ada saja alasan untuk menghindar. Ya sibuklah, tidak sempatlah, capeklah, suasana tidak mendukunglah, tidak ada idelah, sedang tidak mood-lah, inilah, itulah. 


Penulis seperti ini sekali-kali perlu “digebukin” (Bercanda!). Ada satu hal yang harus diingat, mereka yang bercita-cita ingin menjadi penulis hampir bisa dipastikan diawali dari hobi atau kesenangan. Jika seseorang menyukai sesuatu, apakah dia akan menghindar melakukan hal yang disukainya itu? Jawabannya adalah tidak! Orang yang menyukai sepak bola tidak mungkin menghindar menonton sepak bola. Orang yang menyukai film tidak mungkin menghindar menonton film, begitu juga dengan menulis. Orang yang menyukai menulis seharusnya tidak akan menghindar dari menulis. Seandainya ada yang menghindar maka orang itu patut bertanya pada diri sendiri, “Apa aku benar-benar menyukai menulis?” Karena jika kita sudah menyukai sesuatu, apa pun yang menjadi penghalang atau hambatan pasti akan disingkirkan! (Kalau sudah cinta, apa pun akan dilakukan! Betul?) Jadi kalau mau jadi penulis jangan banyak alasan, menulislah!


2. Suka Menunda-nunda

“Aku mau nulis, tapi nanti habis cuci piring!”
“Aku mau nulis, tapi nanti habis nyapu!”
“Aku mau nulis, tapi nanti pulang dari jalan-jalan!”
“Aku mau nulis, tapi nonton drama Korea dulu!” (Hehe)

Hayo! Siapa yang suka begini? Beginilah penulis yang suka menunda-nunda. Katanya mau ikut lomba cerpen, tapi tidak segera dikerjakan. Ya keburu habis waktu lombanya! Hei, ingat, sebuah peribahasa Arab mengatakan bahwa “Waktu adalah pedang.” Apalagi badi penulis yang nyaris selalu dikejar-kejar deadline sampai liang kubur (kalau seumur hidupnya jadi penulis). Tidak apa-apa kalau hanya tidak jadi ikut lomba cerpen. Masalahnya seandainya kamu menulis naskah pesanan dari penerbit mayor, diberi deadline malah santai-santai, bersiap-siaplah dihabisi oleh pedang waktu! Ada penerbit mayor yang memberlakukan sistem denda bagi penulis yang melewati batas deadline. Jika terlambat satu minggu maka honor akan dipotong sekian rupiah. Tapi kalau kamu kelewat baik hati dan rela honornya disunat terus ya tidak apa-apa, kok!


3. Tidak Disiplin

Penulis tidak disiplin adalah penulis yang “angin-anginan”. Menulisnya “semau gue” atau “suka-suka gue”. Sehari menulis, sehari tidak. Hari ini bisa ngebut menulis sepuluh halaman, tapi melanjutkannya satu bulan kemudian. Ngebut lagi, ngadat lagi. Nanti ujung-ujungnya tidak selesai. Alasannya sudah bosan. Ganti menulis cerita baru, angin-anginan lagi. Ini penulis maunya apa? Kapan naskahnya mau selesai kalau begitu?
Akan lebih baik kalau kita tetapkan waktu khusus dan target khusus untuk menulis. Misalnya jam menulis setiap pukul lima (sekadar info, waktu Subuh adalah waktu di mana otak kita dalam keadaan paling fresh) sampai jam tujuh pagi. Atau kapan pun terserahlah. Yang penting tepati waktu ini. Lalu ciptakan target, setidaknya sehari harus menulis dua atau tiga halaman. Sedikit sedikit tapi rutin, jauh lebih baik daripada angin-anginan.


4. Tidak sabaran

Mau jadi penulis tapi tidak punya kesabaran menyelesaikan naskah. Ya ampun, menulis itu kan bukan main sulap yang begitu bilang sim salabim sambil melambaikan tongkat langsung jadi. Harus sabar mengetikkan huruf demi huruf menjadi kata, kata demi kata menjadi kalimat, kalimat demi kalimat menjadi paragraf, paragraf demi paragraf menjadi halaman, halaman demi halaman menjadi bab, sampai bab demi bab menjadi satu naskah utuh. Penulis yang tidak sabaran baiknya alih profesi saja. Apalagi penulis yang tidak sabar menanti keputusan naskah (yang ini tidak perlu dibahas panjang lebar, tanyakan saja pada penerbitnya langsung. Apa yang dia rasakan saat menghadapi penulis grusa-grusu begini? Hehe).


5. Tidak percaya diri

“Aku mau jadi penulis, tapi tulisanku jelek. Gimana, ya? Aku malu kalau ada orang lain yang baca ….” Terus maksudmu apa? Mau menulis sendiri dan dibaca sendiri? Hei, ketahuilah, para penulis hebat dan terkenal itu dulunya juga tidak langsung bagus. Tulisan mereka menjadi luar biasa setelah melalui proses yang panjang. Jadi jangan minder. Percaya diri penting dalam hal apa pun, termasuk dalam menulis.


6. Malas 

Mau jadi penulis tapi malas membaca malas dan melihat berita. Kalau buka Facebook rajin, tapi kalau ada berita penting hanya dibaca judulnya lalu asal komentar yang tidak “nyambung”. Ujung-ujungnya debat kusir tak berujung. Kalau ada info lomba hanya dilihat sekilas dan menanyakan sesuatu yang sudah dijelaskan, membuat jengkel panitia. Bagaimana mau jadi penulis kalau soal informasi saja malas mencari? 


7. Terlalu banyak berpikir

Coba bayangkan. Sebuah bus yang dipadati oleh penumpang, lalu saat bus itu berhenti, semua orang berebut turun dan tidak ada yang mau mengalah. Apa yang terjadi? Mereka akan sulit keluar. Seperti itulah analoginya orang yang terlalu banyak berpikir. Terlalu banyak berpikir malah membuat otak semakin kacau dan tidak bisa menulis apa-apa. Lebih baik jika menulis dalam keadaan rileks. Ide yang tadinya bersembunyi akan bermunculan satu per satu dengan lancar. Kuncinya, menulislah dengan gembira tanpa perasaan terbebani atau tertekan.


8. Mental kerupuk

Baru dikritik sedikit sudah putus asa. Kalah lomba menulis sudah tidak mau ikut lomba lagi. Baru ditolak penerbit satu kali sudah menyerah tidak mau menulis lagi. Tidak mendapat dukungan… (eh, banyak lho para penulis yang cita-citanya dulu ditentang oleh orangtua). Padahal kalau mau jadi penulis itu harus punya mental baja, harus tahan banting. Dikritik, ditolak, disepelekan, sudah jadi makanan sehari-hari. Yang mentalnya seperti kerupuk akan tersingkir.


(Liana Safitri)


Share
Tweet
Pin
Share
3 komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me


Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit consequat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amet nibh vulputate.

Follow Us

Labels

Artikel event menulis Katalog Buku Kirim Naskah Kumpulan Cerita Kursus Menulis Online Literasi Novel novelet Review Buku & Film Tentang Kami Wawancara Penulis

recent posts

Blog Archive

  • ►  2017 (62)
    • ►  Oktober (44)
    • ►  April (11)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (6)
  • ▼  2016 (24)
    • ►  Agustus (1)
    • ▼  Juli (16)
      • Review Film Sabtu Bersama Bapak
      • Review Film The Girl on the Train
      • Review Film The Notebook
      • Review Film The Shack
      • Review Film The Last Song
      • Review Film The BFG
      • Elipsis
      • Sudut Pandang
      • Penggunaan Tanda Baca Titik Dan Koma Sebelum Tanda...
      • Menulis Untuk Keabadian
      • Memulai Menulis
      • Internet Bagi Penulis: Antara Bantuan dan Godaan
      • Jangan Jadi Penulis Kalkulator
      • Cinta pun Perlu Dituliskan
      • Hambatan Menulis
      • Problem Saat Menulis Naskah dan Cara Mengatasinya
    • ►  Juni (6)
    • ►  Februari (1)
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by BeautyTemplates