Berbagi Dunia Literasi dengan Adinda Amara

by - 01.40






Setelah berhasil menyelesaikan buku Reach Out to Me bulan Februari lalu, saya tidak habis pikir bagaimana bisa saya sampai ‘terjerumus’ ke dunia literasi yang bahkan tidak pernah dicatat dalam salah satu mimpi saya semenjak SD. Dulu mimpi saya menjadi arsitek, dokter, segala yang berbau MIPA. Sampai masuk SMA pun, tidak terpikir akan termotivasi menulis seperti sekarang. Saya memang masuk ke organisasi yang mengurus mading dan majalah sekolah … tetapi, ya, hanya ikut saja. Tidak ada keinginan lebih.

    Sampai tiba-tiba saja, entah mendapat ilham apa, di bulan September 2015 saya tertarik mengikuti sebuah lomba menulis cerpen. Saat itu, saya yang belum tahu apa-apa tentang menulis iseng-iseng saja, bahkan sempat menganggap cetek (jangan ditiru :D) karena saya tergiur dengan hadiah bagi para pemenang.

  Karma memang sungguh ada. Ketika tidak serius dan menganggap gampang, saya kalah. Seharusnya, bila saat itu pikiran saya masih waras, saya tidak menangis. Toh, saya tidak berusaha dan membuat cerpennya asal. Mengapa menangis? Memang salah saya, kok. Tetapi, nyatanya saat kalah saya memang menangis. Menyesal karena tidak belajar terlebih dahulu. Ditambah lagi, saat itu saya masih jarang membaca buku, bahkan tergolong anak yang malas dan pusing ketika melihat tumpukan halaman tanpa gambar.

   Setelah lomba cerpen bertema hijrah tersebut, saya sempat ingin mundur. Hahaha, kalau dipikir-pikir, saya belum berusaha apa-apa, ya, saat itu. Namun sebuah lomba cerpen muncul lagi, kali ini temanya tentang kerinduan. Hadiahnya tidak seberapa, yang menarik saya untuk kembali ikut adalah … entah, mungkin bisa dibilang rasa penasaran.

   Kesempatan kedua ini tidak saya pakai untuk main-main lagi. Saya membaca beberapa rujukan, novel, dan kiat-kiat di internet untuk membuat naskah yang cukup bagus, dan … congrats! Ternyata saya masuk sebagai kontributor.

  Saya senang bukan main saat itu dan mulai bersemangat menulis kembali. Saya benar-benar bersyukur karena rasa penasaran yang menggiring saya kembali ke dunia literasi. Kalau tidak, mungkin saya tidak akan menyelesaikan buku Reach Out to Me dan dua naskah yang kini sudah saya kirim ke penerbit (masih proses, doakan, ya!). Selain jadi sering menulis, saya pun jadi addictmembaca. Saya sendiri tidak percaya. Saya yang sebelumnya malas-malasan dan sering menumpuk buku hingga berdebu, kini menghabiskan novel dengan waktu cepat. Kemarin saya membeli beberapa novel dan salah satunya saya habiskan dalam waktu … satu jam.

   Tetapi, saya sangat sedih karena tidak bisa melakukan dua kegiatan terbaik itu setiap saat. Saya masih murid SMA dan … ya, bisa dibilang saya salah satu aktifdi sana. Saya anggota OSIS dan Buana Pelajar, ditambah lagi, karena beberapa guru tahu saya penulis, saya mendapat jobini-itu. Hahaha, maaf kalau curhat: sebenarnya saya sempat marah karena disuruh-suruh melulu. Saya harus mewawancarai tokoh-tokoh terkenal di kota saya, saya juga diikutsertakan dalam pembuatan buku 60 tahun sekolah. Lalu, naskah saya kapan bisa dikerjakan lagi kalau begitu?
  Yah, itulah salah satu dampak positif dan dampak yang cukup memusingkan (haha, tetapi saya mengerjakan tugas dari guru-guru itu, lho) dari riwayat kepenulisan saya. Menyenangkan. Namun yang pasti, kini saya tahu passionhidup saya. Memang saya tidak akan melanjutkan kuliah ke jurusan yang berbau sastra, tetapi saya akan selalu mencintai dunia literasi dan tetap akan menulis.

   Reach Out to Me saya persembahkan untuk kalian yang merasa bahwa sakit hati itu tidak mudah disembuhkan, untuk kalian yang merasa kesepian di tengah keramaian, dan untuk kalian yang membutuhkan bahu seseorang untuk bersandar. Tenang, kawan-kawan, pada akhirnya, Alisa (tokoh utama Reach Out to Me) mendapatkan kebahagiaan setelah segala musibah yang terjadi pada dia dan keluarganya. Jadi, bagaimana kalau kalian juga mulai menjemput kebahagiaan tersebut seperti Alisa? :)



You May Also Like

0 komentar